Memulai Tradisi Arsip Visual
oleh Ekky Imanjaya
Redaktur Rumahfilm.org, Amsterdam

 

Di layar besar, diputar rekaman orang-orang mondar mandir di sebuah pojok, di Pasarbaru, Jakarta. Tanpa plot, tanpa event yang menyertainya. Semua ditampilkan apa adanya. Seorang berjilbab melewati lorong, ibu dan anak hadir dan terdiam sejenak. Kamera hanya diletakkan dari subuh hingga tengah malam, tombol record ditekan, dan setiap gerakan terekam. Itulah salah satu menu pameran “24 Hours Indonesia” di Museum Tropen, Amsterdam, Belanda.

Sejak 26 Juni lalu hingga 16 November mendatang, salah satu museum paling bergengsi di Belanda itu menjadi etalase bagi kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia. Puluhan pengunjung menyaksikan berbagai potongan film keseharian di pasar, restoran, sekolahan, terminal bis, stadion sepakbola. Juga wawancara seputar kehidupan sehari-hari, keluarga, tempat kerja, hal-hal kecil tepatnya. Gambar-gambar non-plot dan non-peristiwa itu diambil dari Payakumbuh, Kawal, Jakarta, Sintang, Delanggu, Surabaya, Bittuang, dan Ternate. Bagi orang Indonesia, mungkin itu hal biasa. “ Kami merekam hal-hal yang normal yang sudah jelas terlihat, tapi justru karena itu tak seorang pun merekamnya. Makanya harus direkam atau itu semua akan lenyap,” ujar Henk Schulte Nordholt , salah satu pencetus dan tim dari eksibisi “24 Hours Indonesia”.

Maka sejak 2003, tim yang terdiri dari Henk, Lexy Rambadetta , Andre Triadiputra, dan Fridus Steijlen pun mulai melakukan rekaman. Tiap tahun, mereka hadir kembali di dua titik yang sama di 8 kota. Dan proyek kerjasama KITLV (Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies, Leiden), LIPI dan Offstream ini pun menghasilkan 230 jam footages. Hasilnya, adalah sebuah pameran dengan satu layar besar, dua layar dengan alat pemilih, dan 9 televisi.

Pameran ini adalah bagian dari proyek audio visual Recording the Future. Ide merekam keseharian itu muncul dari Henk tahun 2003, dan terealisasi setahun kemudian. Dan, tak sengaja Henk melihat persamaan ide pada sutradara Lexy Rambadetta yang menyatakan dalam sebuah wawancara untuk membuat arsip tenatng keseharian dan ingin bekerja sama dengan lembaga seperti KITLV. “Lantas Fridus mencari Lexy dan kerjasama pun terjadi. Lexy sejak Maret 2003 hadir dan melakukan semacam workshop,” ungkap Henk.

Metode yang digunakan adalah “keep rolling, keep filming, drive around, walk around”. Dan non-plot adalah salah satu ciri khasnya. “Orang kan tidak bicara tentang air ketika berenang,” kata Henk, bermetafor. Intinya, program ini ingin membuat arsip visual tentang bagaimana merekam realitas semacam lingkungan social dan rutinitas hidup. Dan ternyata, usaha seperti ini dalam konteks Indonesia nyaris tidak dilakukan. “Misalnya, upacara bendera. Ini kan berlangsung ribuan kali, tapi kami hanya menemukan tiga rekaman tentang ini,” ungkapnya. Karakteristik berikutnya adalah non-event, mereka tidak merekam, misalnya, sebuah peristiwa politik atau demonstrasi. “Kisah-kisah kecil, itulah dasarnya kehidupan kita,” terang Henk. Sedangkan 8 kota yang terpilih secara acak adalah 8 jendela berbeda dalam melihat Indonesia. Misalnya, Kawal sebagai desa nelayan, Delanggu adalah sebuah desa yang tengah mengalami modernisasi di Jawa Tengah, Bittuang mewakili daerah pegunungan di Sulawesi.

Cuplikan film itu mengingatkan pada film-film dokumenter a la Mannus Franken di era Kolonial. “Kami memang terinspirasi mereka. Misalnya, ada film produksi 1912 tentang suasana di Bandung, kamera dipasang di depan mobil,” jelas Direktur Riset KITLV itu.

Menurut Henk, pameran ini adalah sebuah tradisi baru kearsipan. “Inilah format arsip baru, arsip visual. Semoga film-film bisa dipakai untuk semua ilmuwan,” harapnya. Rencananya, proyek ini akan dilanjutkan hingga 100 tahun ke depan. Dengan menyediakan bahan-bahan mentah itu, maka berbagai intelektual berbagai disiplin ilmu – sosiolog, antropolog, pakar politik, kajian budaya, sejarahwan, hingga ekonom – mendapatkan akses untuk melihat lagi Indonesia di tahun tahun tertentu.

Empat anggota tim pun merasakan manfaatnya. Hadir tiap tahun selama 4 tahun berturut-turut ke tempat yang sama membuat orang sekitar mengenal mereka. Salah satu perubahannya adalah semakin banyaknya motor. “ Mungkin karena BBM naik”. Dan mereka pun merasakan pengalaman-pengalaman menarik.

Misalnya, di Payakumbuh. Pada 2003, mereka merekam seorang membawa gembolan ayam. Tahun ini, mereka bertemu dengan orang yang sama, tapi dengan 5 gembolan ayam. Tapi pada pertemuan mutakhir itu, sang pedagang ayam itu tidak mau direkam. “Terakhir ayam saya direkam, mereka tidak bertelur selama 5 pekan. Mereka stress.” Ungkap Henk.

Hal lain adalah perbandingan masyarakat Indonesia dan Belanda dalam memandang kamera. “Indonesia terbiasa dengan kamera. Mereka tidak peduli dengan kamera. Beda dengan orang Belanda yang menganggap itu adalah teritori pribadi mereka. Orang Indonesia lebih bersahabat,” ungkap Henk yang sejak 2007 menjadi professor bidang Kajian Asia Tenggara di KITLV Leiden dan Vrije Universiteit Amsterdam Mereka sadar bahwa kamera adalah alat yang intimidating. “Karena itu sebelum merekam kami minta ijin dulu”.

Floor Thalauw, ibu asal Jakarta yang sudah 30 tahun bermukim di Belanda menyatakan kegembiraan dan kebanggaannya. “Sangat terkesan karena mereka sampai bisa pameran di sini. Ini prestasi,” ungkapnya. “Film tidak hanya seputar seks, misalnya, tapi juga yang lain memotret negara, orang-orang, pembangunan. Ini yang namanya karya positif”. You made a good start.” kata wanita 68 tahun pensiunan Radio Nederland Wereldomroep itu.

Nuraini Juliastuti, Direktur Kunci Cultural Studies melihat kemiripan proyek ini dengan kanal Nostalgie TV. “S ecara konsep, ide proyek ini itu bagus. Tetapi sebagaimana halnya Nostalgie TV, yang ditunjukkan oleh film-film di sini masih sebatas penunjukan aneka sisi masyarakat indonesia. Untuk bisa "membunyikan" data-data mentah itu, masih dibutuhkan step lanjutan misalnya analisa atau riset lain yg lebih mendalam atas data-data visual mereka,” ungkap Nuraini yang acap disapa Nuning. Misalya, pertanyaan tidak diolah dan kurang mendalam. Pada Noltalgie TV, Nuning mendapatkan banyak pengetahuan tentang sejarah Belanda. “Perbedaan antara keduanya menurut saya sampai saat ini adalah waktu. Nostalgie TV sudah berumur panjang, dan dia sudah sampai pada tahap bisa mengelompokkan dan istilah saya, membunyikan data2 yang dimilikinya. sementara proyek ini baru mulai. Jadi , kita masih menunggu. apa yang bisa dilakukan proyek ini nanti.". intinya, ketahanan adalah kata kuncinya.

Pada 4 September mendatang, akan diputar film 60 menit bertitel Don’t Forget to Remember Me (a day in the life of Indonesia) di Universitas Leiden, tempat KITLV bermarkas, juga sebagai bagian dari proyek Recording the Future.

Tradisi baru kearsipan, arsip visual, telah dimulai di Belanda. Semoga bisa bertahan hingga puluhan bahkan seratus tahun.***

Kabar lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org