Pilih Siapa Gubernur DKI: Sophan atau Asmuni?
Sumber: Zaman, 19 September 1982

Pada 1980-an, ada majalah unik terbitan kelompok TEMPO, namanya ZAMAN. Majalah keluarga ini berisi topik gado-gado, iseng, dan cukup banyak memuat artikel tentang film. Ketika akhirnya majalah ini ditutup karena tak menguntungkan, Surat Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP)-nya kemudian dipakai untuk majalah MATRA -yang cenderung mencontoh PLAYBOY, yakni majalah gaya hidup pria. Nah, pernah ada di ZAMAN rubrik Opini. Dalam rubrik ini, redaksi melontarkan sebuah topik yang sedang hangat di masyarakat pekan itu, lalu mengundang pembaca maupun tokoh masyarakat memberi komentar singkat mereka. Macam-macam topiknya, seperti “Seandainya anak saya homoseksual” , soal setuju atau tidak mencat rambut (Rendra bilang, pro!), dan banyak lagi. Pada edisi 19 September 1982, topik yang dimuat adalah “Kalau Aku Jadi Gubernur DKI”.Ada enam opini yang dimuat, tiga dari rakyat jelata (pedagang kaki lima, tukang beak, dan pedagang kelontong), satu dari penyiar RRI (Bang Madi, si “Tukang Sado”), dan dua dari insan film/artis: Sophan Sophian dan Asmuni.

Berikut, petikan pendapat dua insan film itu, seandainya mereka jadi gubernur DKI:

Sophan Sophian
...(Y)ang pertama kali saya akan saya kerjakan adalah, istri saya tidak boleh ikut campur urusan saya...Urusan kebersihan, itu urusan pemerintah DKI, bukan urusan para istri. Kebersihan di rumah itu baru urusan istri.

Selain itu saya akan hidupkan lagi semua aturan yang pernah dijalankan oleh Bang Ali. Sopir yang ngebut dan seenaknya di jalan raya, saya setop dan saya tinju. ...Kalau ada yang protes saya gebuk sekalian. Dikira gampang jadi gubernur DKI? Sampai sekarang saya kira masih harus dengan tangan besi menangani Jakarta ini...Kekerasan harus dilawan dengan kekerasan. Itu baru namanya gubernur DKI.

Soal kaki lima akan saya hapus sama sekali. Merusak pemandangan, mengganggu lalu lintas dan tidak berbudaya. Masa keadaan yang tidak berbudaya ini malah dipiara, seperti sekarang ini.

Asmuni
Eh lah, jadi gubernur itu harus gagah, berwibawa dan tampak pinter. Walaupun mungkin bodoh kayak saya ini ...harus tampak keminter. Eh lho, gubernur kok!

Pokoknya kalau saya jadi gubernur, keminter nih, semua kere-kere dan para penghuni gubuk-gubuk di pinggir sungai saya haruskan untuk mendapat rumah di Perumnas. Tapi ada kewajiban buat mereka ini. Setiap malam secara bergilir, mereka harus nonton Srimulat....Ini penting mas, perintah gubernur.

Daripada nyeleweng, cari perempuan ke sana ke mari, saya akan kawin lagi. Tidak tambah satu, sepuluh sekalian. Gubernur lho ini, penting itu. Untuk menambah semangat kerja. Jamu mas, jamu.

...Banyak sebetulnya yang ingin saya kerjakan kalau saya jadi gubernur. Tapi saya takut mengatakan, nanti ditangkap. Belum jadi gubernur sudah ditangkap, kan nggak enak.

Filmsiana lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org