
![]() |
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs |
Istirahat = 3 film Istirahat syuting, apalagi yang bisa dilakukan selain main?. Namanya juga istirahat syuting, kamera nganggur. Salah satu alternatifnya, ya bermain dengan kamera. Begitulah yang dilakukan oleh kameramen yang juga merangkap sutradara, Liew Seng Tat. Saat sedang melakukan syuting sebagai kameramen Amir Muhammad disebuh desa kecil di Malaysia, Seng Tat juga ikut bergaul dengan penduduk desa setempat. Saat istirahat, sutradara kelahiran 1979 ini, menggunakan kamera nganggur untuk mengambil gambar disekitar desa. Salah satunya, sebuah acara tahunan disebuah Taman Kanak-Kanak. Acara tahunan ini diisi dengan pesta kostum. Kostum yang dipilih anak-anak ini beragam pula. Dari yang dipersiapkan super teliti kayak kostum bidadari bersayap hingga kostum celana kolor. Si anak bercelana kolor ini ceritanya ingin menunjukkan bahwa dia olahragawan dalam bidangangkat besi. Dari segerombolan anak-anak inilah yang paling menarik perhatian adalah anak berkostum bunga matahari. Entah apa yang salah. Sang bunga matahari ini cemberut sepanjang waktu. Bahkan saat teman-temannya yang lain asyik bergembira ria, dia tetap cemberut. Adegan ini terus direkam oleh Seng Tat. Dan hasilnya
diedit, kelucuan-kelucuan yang tertangkap disatukan, dan jadilah sebuah film
pendek 7 menit diberi judul Matahari. Film ini masuk kategori Short : As Long As
It Takes dalam festival film Seng Tat yang sekaligus jadi asisten sutradara Amir Muhammad ini tidak hanya membuat matahari di desa itu. Tapi juga sebuah komedi singkat berjudul Man in Love. Film pendek berdurasi 4 menit ini sebetulnya ingin bercanda. Jadi dibuka adegan seorang bapak ngobrol dengan ‘kekasih gelapnya’. Tak ada yang sitimewa dengan obrolan tersebut selain mengenang kisah mereka dulu. Sampai kemudian ketika si bapak sambil merokok, lalu memotret dengan kamera Nikon, ketahuan, si bapak ternyata punya 3 tangan. Lalu belakangan, si ‘kekasih gelap’ yang diajak ngobrol juga ternyata punya 3 kaki yang diberi kuteks warna-warni. Mungkin Man in Love tidak menawarkan banyak hal kecuali kejutan 3 tangan dan 3 kaki itu. Tapi harus diakui, idenya yang tidak biasa membuat Man in Love dianggap layak putar. Seng Tat, tidak berhenti hanya disitu. Dia juga membuat Daughters, di waktu senggang yang sama. Mendokumentasikan sejumlah kegiatan setempat dengan ibu-ibu dan anak-anak perempuan. Seng Tat yang baru saja menyelesaikan film panjangnya yang pertama A Flower in Your Pocket ini bakal ikut meramaikan serbuan sinema muda Malaysia ke Eropa. Seng Tat juga berasal dari kelompok yang sama yang membesarkan Tan Chui Mui, James Lee, Ho Yuhang dan Woo Ming Jin. |
|
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org. Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik © 2007 rumahfilm.org |