Film Fantasi dan Fiksi Ilmiah Indonesia: Adakah?
oleh Donny Anggoro (Wartawan dan penikmat film)

Pertanyaan di atas mungkin sulit dijawab. Di Indonesia, genre film fantasi dan fiksi ilmiah kalah populer dibandingkan drama percintaan dan tema horor-mistik. Mungkin lantaran biaya produksi film fantasi dan fiksi-ilmiah lebih mahal dan membutuhkan keterampilan khusus di luar teknologi film yang selama ini dipelajari di sekolah film kita.

Keterampilan khusus tersebut tak lain adalah penguasaan di bidang teknologi yang semestinya bisa disinergikan dengan ilmu film. Industri film kita yang nampaknya masih lebih membutuhkan kemampuan dramatik dan penguasaan seni peran membuat ilmu teknologi jadi seperti dikesampingkan –salah satu hal yang membuat genre fantasi fiksi ilmiah di sini kurang populer.

Penguasaan ilmu fisika dan sains sebagai fondasi (agar cerita yang dibuat dapat meyakinkan penonton) jika ingin menjelajah genre ini nampaknya agak sulit dijamah masyarakat kita yang lebih akrab dengan mitos dan legenda. Akibatnya, penonton film genre ini di sini tidak terbentuk. Kalau pun ada, hanya terpuaskan dari film-film luar negeri yang memang sudah maju pencapaian efek visual mereka. Padahal, untuk mengangkat genre horor-mistik (juga silat) yang diilhami dari mitos dan legenda, penguasaan trik dan efek visual lainnya juga diperlukan, sama halnya dengan fiksi ilmiah.

Begitu sedikit jumlah film atau buku fiksi ilmiah yang dirilis. Jika dilihat dari perkembangan dunia pustaka, genre ini pernah ditekuni oleh penulis anak Djokolelono. Penulis yang belakangan aktif dalam dunia periklanan ini pernah menelurkan buku trilogi Penjelajah Angkasa pada era 1980-an. Buku yang diterbitkan Gramedia ini pada masanya cukup mendapat sambutan. Sebelumnya, ia menulis novel anak Bintang Hitam (1985) yang masuk dalam buku anak Seri Kancil (juga dari grup Gramedia).

Nah, berikut adalah khasanah film fiksi ilmiah yang pernah kita miliki. Walau sedikit, dan tak terlalu ”fiksi ilmiah” karena beberapa masih dicampuri klenik, tapi asyik juga menengok mereka kembali.

Rama Superman Indonesia (1974)
“Superman” versi asli, yang diciptakan Jerry Siegel dan Joe Shuster pada 1939, baru dibesut menjadi film layar lebar tahun 1978 oleh sineas Richard Donner. Sineas Indonesia ternyata sudah mendahului dengan membuat film Rama Superman Indonesia. Produksi bersama PT Serama Film dan Jakarta Putrajaya Film ini disutradarai Frans Totok Ars dan skenarionya digarap oleh M. Endraatmadja yang juga bertindak sebagai produser Serama Film. Dibintangi oleh Agust Melasz, Jenny Rachman, Djauhari Effendi, dan Beng Ito, film ini mengisahkan seorang anak kecil penjaja Koran yang menemukan jimat kupu-kupu emas. Jika jimat itu dicium, ia jadi orang dewasa kuat yang dapat terbang dan berkostum seperti Superman bernama Rama (diperankan Agus Melasz).

Ia sering menolong orang dan menjadi pemberitaan koran. Sang bocah berkenalan dengan dengan Lia (Jenny Rachman), putri Profesor Hartoyo yang sedang diincar komplotan penjahat Naga Hitam karena formula temuannya, yakni bahan peledak berkekuatan tinggi. Usaha merebut formula itu selalu digagalkan Rama sehingga Lia diculik komplotan Naga Hitam.

Meski penggarapannya masih sederhana, film ini cukup unik dengan menggunakan caption seruan “braakkk”, “wow”, dan sebagainya, seperti dalam komik. Penggunaan caption ini nampaknya dipengaruhi serial televisi Batman (1961, diperankan aktor Adam West) yang sempat ditayangkan di TVRI pertengahan 1970-an.

Gundala Putra Petir (1981)
Disutradarai Liliek Sudjio, film ini nampaknya mencoba memuaskan dahaga pencinta komik Gundala karya Hasmi yang populer saat itu. Diperankan Teddy Purba sebagai Sancaka/Gundala, film ini diiklankan secara bombastis dengan mencantumkan kalimat “Setelah Superman!” di poster filmnya. Selain memuaskan penggemar komiknya, film ini dibuat paling tidak menyaingi popularitas film “Superman” yang diperankan Christopher Reeve di bioskop nasional. Seolah film ini hendak memberi gambaran bahwa Indonesia juga punya ikon superhero yang tak kalah hebat dari Superman.

Sayang, film ini kalah sukses dibandingkan film Si Buta dari Goa Hantu yang juga diangkat dari komik. Terbukti dengan tidak dibuat sekuel Gundala, sedangkan Si Buta saja dibuat sampai berjilid-jilid dan merambah ke layar gelas hingga berjudul-judul. Pemeran lainnya dalam film ini adalah Anna Tairas, Pietrajaya Burnama, dan WD Mochtar.

Manusia 6.000.000 Dollar (1981)
Meskipun film produksi Bola Dunia Film ini membonceng ketenaran serial teve The Six Million Dollar Man dengan tokoh jagoan bernama Steve Austin, film ini sedikit mengandung unsur fiksi ilmiah yang dikemas dalam humor parodi.

Diperankan Warkop DKI (Dono, Kasino, Indro), film ini disutradarai dan ditulis skenarionya oleh Ali Shahab. Kalau “The Six” mengisahkan Steve yang dijadikan manusia bionik setelah mengalami kecelakaan pesawat terbang, detektif Dono mengalami kecelakaan parah ditabrak bajaj tatkala mengejar pencopet. Bos detektif Kasino mengeluarkan biaya enam juta dolar untuk mengganti tubuh Dono yang rusak. Detektif Dono menjadi kuat dan punya kelebihan di atas rata-rata manusia biasa. Manusia 6.000.000 Dollar juga memopulerkan aktor gundul bertubuh tambun, Jack John, yang setelah film ini sering mendapat peran sebagai orang kuat atau jin (salah satunya, Jin Tomang). Jack John berperan sebagai orang kuat bergigi besi bernama Robot. Uniknya, selain memarodikan The Six Million Dollar Man, penampilan Robot di film ini terinspirasi dari tokoh Jaws (juga kuat dan bergigi besi), musuh James Bond (versi Roger Moore) dalam Moonraker yang juga beken pada zaman itu. Selain Jack John, aktor Dorman Borisman juga melesat lewat film yang merupakan debut akting Meriam Bellina ini.

Gadis Bionik (1982)
Masih disutradarai dan ditulis skenarionya oleh Ali Shahab, film ini sebenarnya masih terkait dengan Manusia 6.000.000 Dollar. Hampir semua pemainnya sama, kecuali trio Warkop DKI yang absen. Tokoh penjahatnya pun sama, yaitu Kontet (Don Nasco) yang di film sebelumnya dipenjara, juga Robot (Jack John). Di film ini ia berhasil meloloskan diri dan bermaksud balas dendam kepada Rita (Eva Arnaz), gadis yang membuatnya ditangkap. Rita ditabrak jip oleh gerombolan Kontet dan mengalami kecelakaan parah. Agar pulih, Rita diselamatkan dan menjadi gadis bionik. Rita kemudian membantu polisi menumpas komplotan Kontet.

Kalau film sebelumnya sangat humoris, Gadis Bionik cenderung serius dan nampaknya digarap sebagai film laga, bukan komedi. Humor di sini hanya tampak di adegan awal. Selain ”The Six”, film ini terinspirasi dari serial teve Bionic Woman yang juga populer pada masa itu.

Homeland (2003)
Cukup lama genre fantasi dan fiksi ilmiah ditinggalkan, sampai muncul Homeland (sutradara dan cerita Gangsar Waskito) yang sejatinya adalah karya animasi. Mengisahkan Bumi, bocah 14 tahun yang tedampar di sebuah planet setelah mengendarai pesawat luar angkasa. Bumi tak tahu nasib ayahnya yang hilang setelah pesawat mereka mengalami masalah. Film produksi Studio Kasatmata dan Visi Anak Bangsa ini meski secara teknis cukup baik, dari segi cerita masih berat dikonsumsi anak. Memang ada beda visi yang sulit dikompromikan antara penciptanya (Studio Kasatmata, SET, dan Visi Anak Bangsa) yang semula membuatnya untuk remaja dengan investor yang menginginkan Homeland untuk anak. Pertimbangan investor pun bisa dimengerti lantaran pasar untuk animasi remaja memang belum terbentuk. Di Indonesia tayangan animasi remaja belum begitu populer, berbeda dengan di Amerika atau Jepang, di mana animasi remaja bahkan untuk dewasa sudah menjadi tren, baik di televisi dan layar lebar.

Homeland merupakan film animasi fiksi ilmiah pertama kita yang diedarkan di luar bioskop melalui tayangan televisi, kemudian beredar dalam bentuk VCD.

Janus: Prajurit Terakhir (2003)
Mengisahkan manusia robot dari abad 34 yang terdampar di abad 21 bernama Janus. Ia terdampar setelah insiden perang antar bangsa di masa depan. Janus berusaha kembali ke zamannya untuk melanjutkan perjuangan bangsanya, Genoc melawan Draco. Usahanya didukung Mayo (Derby Romero) dan Indri (Alyssa Soebandono). Mereka dikejar dua bocah badung dan diburu pasukan Draco di masa depan (musuh Genoc) dan orang-orang dewasa yang tidak percaya cerita Mayo.

Disutradarai dan skenarionya ditulis oleh Chandra Endroputro (Kejar Jakarta) yang semula aktif di bidang periklanan, film ini mencoba menggabungkan animasi dengan adegan film sungguhan yang diperankan aktor-aktris nyata. Meski tak sampai sekualitas Who Framed RogerRabbit (1988) yang juga menggabungkan animasi dan pemain sungguhan, film ini secara teknis cukup baik dan patut dihargai sebagai terobosan baru di Indonesia.***

Filmsiana lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org