sumber kitlv.nl

Mengaji Dunia Film
oleh Ekky Imanjaya
Redaktur Rumahfilm.org, Amsterdam

Siapa yang tahu majalah film pertama di Indonesia? Mungkin banyak yang ngacung dan nyeletuk: “Saya tahu! Saya tahu! Doenia Film! Andjar Asmara pemrednya!” Yak! Seratus! Tapi siapa yang sudah pernah melihat dan membacanya? Izinkan kali ini saya, dengan penuh kerendahan hati, yang berteriak euforia:” Saya! Saya!”

Saya memang gembira bukan kepalang saat menemukannya, di Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies alias KITLV, Leiden, Belanda. Saat di katalog tercantum nama “Dunia Film”, saya belum begitu ngeh. “Ah mungkin judul buku saja,” ujar saya yang saat itu, yang tengah mencari buku-buku berbahasa Inggris tentang film Indonesia—saya jumpai nama Karl Heider, Khrisna Sen, Salim Said, dan Misbach Jusa Biran. Namun begitu saya iseng-iseng memesannya, saya seperti menemukan harta karun! A-ha!

Dan KITLV pun memperlakukannya bak harta karun. Majalah antik itu tak boleh dibawa pulang. Walhasil saya pun memfotokopinya saja.

Mari kita mulai mengkajinya.

Rupanya Dunia Film (sudah memakai EYD rupanya) yang saya baca adalah nomor yang kesembilan, di akhir 1953—dalam tajuk rencana mereka, tertulis bahwa di awal tahun 1954 majalah ini akan menjadi dwi-mingguan. Dalam masthead (keterangan redaksi), tercatat Madjalah Dunia Film bergambar dengan pemimpin umumnya Abdul Latief. Dewan redaksinya Julius Bahri Noer, H Asby, dan John Muzhar. Ada juga pembantu tetap di luar negeri yaitu di Roma, Singapura, Jepang, Manila, Hong Kong dan India. Tidak ada nama Andjar Asmara lagi di sana. Harga ecera  Rp 3, dan alamat redaksi dan administrasinya di Djalan Kunir no. 1.

Sampulnya seorang gadis manis berkerudung. Keterangannya ada di baliknya: “Lies Noor, peladjar S.M.A. bintang jang boleh diharapkan dari P.F.N.”.

Sekilas, majalah ini sangat dengat dengan pengusaha dan pemilik Persari, Djamaluddin Malik. Beberapa iklan dari perusahaan milik ayah Camelia Malik ini ada di sana. Dan saat Djamaluddin ke Manila, bersama Usmar Ismail, untuk menghadiri konferensi para produsers Asia (16-20 November), mereka ikut mengantar ke bandara  dan meliput.

Dari iklan yang sangat sederhana, kita belajar tentang distribusi saat itu. ada Gabungan Film Importir Nasional Indonesia (Gafini) yang menawarkan film-film mereka untuk para pengusaha bioscoop. Ada film Tiongkok (dari Kui Fang Lo hingga Fu Kui Fa), Malaya (Lupa Daratan, Radja Sehari), India (Arabian Night, Nirmal), Mesir (Gharam Rakisa, Muallim Bulbule), Amerika (Bridge of San Luis Rey, Pot O Gold), Jepang (Muteki, Golden Girl), hingga Spanyol (La Estrella De Merena, Lanina De La Vinta). Bunyinya: “Djaminan bagi pengusah2 bioscoop. Isi tjerita jang memuaskan, seru dan hebat. Lutju dan gembira, njanji dan tari-tarian  jang menarik. Tjatat nama Gafini Films Ltd”.

Rupanya, dunia film juga punya anak perusahaan impor ekspor di bidang penerbitan, percetakan, penjilidan, toko buku, biro reklame, dll. Keterangannya: “Satu2nja Usaha Nasional 100%. Mulai dari sekarang kami sudah dapat pula mempersewakan film luar negeri dari ukuran 16 m/m.  Untuk  film keliling dapat tarip jang istimewa. Mintalah keterangan lebih landjut pada alamat diatas”.

Ada info film yang menceritakan ringkasan keseluruhan isi cerita, dari berbagai distributor, termasuk The War of the World.  Ada pula kajian tentang kritik film. Kali ini ditulis oleh Harlen Loekman dengan judul “Perkembangan Film Indonesia dan Kritik Pemuda (1)”s.

Favorit saya adalah “Mengintip dibelakang Lajar Putih”. Ini semacam trivia.

Silakan simak beberapa tulisannya:

Bioscop Astoria Djakarta:
Dalam minggu pertama dalam bulan Nopember 1953 ini mendapat serangan dari djangkrik2 tetapi lebih hebat lagi serangan pentjinta2 Marilyn Monroe di ibu kota, sehingga waktu pertundjukan terpaksa dimulai sadja sebelum waktunja jang telah ditetapkan. Film Marilyn Monroe jang diputar itu adalah: Don’t Bother to knock – produksi 20 th Fox dengan Richard Wildmark.

Zonder:
Seorang boxer dan pemain film sebelum perang dalam “Harta Berdarah” kini menjetir opelet kepunjaannya sendiri dengan route Djatinegara-Kota.

Bahwa didalam “Kafedo” perkataan2 untuk saudara atau bung diganti dengan kata2 “TEMAN”.

Menurut penjelidikan Menteng bioscoplah yang paling record dengan kutubusuknya. Kalau mau pertjaja, njalakanlah anak geretan, dan lihatlah ditjelah-tjelah rotan2 kursi, sdr2 tentu akan puas.

Barbara Stanwyck:
Setelah dia kembali dari pengambilan location dari hutan2 Mexico di Los Angelos menerangkan bahwa sekarang ini dia tak akan berteriak lagi apabila melihat lawa2 karena di Mexico dia telah melihat binatang2 jang lebih menakutkan lagi umpama: Kala.

Marilyn Monroe:
Adalah satu2nja wanita jang mempunjai “gaja elecriciteit tjium bernafsu” sebesar 13000 ohms. Rupanja gaja tjium inipun diukur di Hollywood.

Tapi rupanya rubrik ini ada saingannya, yaitu “Ngaur”. Wak Den, sang penulis memaparkan fungsi sosiologis bioskop kala itu dengan kocak. Silahkan simak sepenuhnya:

Bioskop:

I. Umum
Satu2nja jajasan penjajang kutu busuk

Penjebar bibit kutu busuk

Tempat merosotnja bau parfum

Tempat mempertundjukkan berbagai film dimana adegan tjium mendapat proiritet nomor wahid

II. Orang tua:
Tempat menonton 2 matjam pertunjukan 1 x lihat

Alasan untuk kanak laki2 minta duit dan alasan keluar malam bagi anak perawan

III. Suami
Tempat tjutji pikiran sesudah disambar piring terbang.

IV. Istri:
Tempat menghabiskan waktu pagi selagi suami dikantor

V. Baji:
Tempat jang menjebabkan sang baji ditinggal sendirian

VI.  Pemuda:
Tempat strategis untuk djual tampang dan tjari mangsa

Tempat membawa si “dia” dengan sedikit biaja utuk tarik keuntungan lega

Tempat jang strategis bagi operasi tangan

Tempat jang menghendaki tjelana wol pindah keloak bila tanggung bulan

VII. Pemudi
Tempat hiburan istimewa zonder ‘kosten”

Medeblad terbaik untuk model badju a la primitip.

Kuliah terbaik untuk teori “Tjinta dan tjium” bagi para “sweet seventeenth”

Kuliah terbaik untuk meniru gerakan jang “Sex-Appeal”.

VIII Peladjar
Pengisi waktu bolos

Tempat penambah pengetahuan umum jang “Oneindig”.

Menjebabkan penunggakan uang sekolah

IX. Guru:
Tempat jang mendjadi alasan untuk memarahi murid.

Fungsi sosiologis bioskop ini juga diulas oleh esai yang dalam dan rubrik “Sekitar Djakarta”, sayang tidak ada nama penulisnya. Sedangkan soal bintang film dikaji dengan popular tapi serius oleh John M dengan judul Mm-mm-mm-girl (batja: fumm-fumm-fumm-Girl).

Ada juga halaman bergambar 2 halaman tengah yang berisi foto-foto aktor dan aktris dalam dan luar negeri.

Tak hanya film, tapi juga hal lain muncul dalam majalah film antik ini. Misalnya, buku dan musik. Ada ulasan tentang biografi Louis Amstrong. Ada rubrik cerpen. Ada resensi mini buku-buku (Puisi Dunia Ke-II dari M Taslim Ali dan Tjinta Tanah Air karya N St Iskandar).

Sekilas, gaya dan semangat majalah ini dekat dengan majalah Zaman dan Jakarta Jakarta. Popular tapi cerdas sekaligus jenaka. Entah apakah majalah ber”genre” seperti ini ada lagi di negeri ini?

Sebagai penutup, mari kita tengok sedikit dari tajuk rencana mereka, Redaksi Menulis:

Selain dari bioskop2 di Indonesia ikut mejebarkkan madjallah Dunia Film ini, maka baru2 ini datang pula tawaran dari Malaya bahwa satu pengusaha disana sanggup pula untuk menjebarkan Dunia film pada theatre2 di Malaya dan Borneo Inggeris (Brunai, Kutjing dll).

Maka dengan ini kami tegaskan setindak demi setindak Dunia Film betul2 sudah mendjadi batjaan umum di Indonesia dan sahabat tetangga kita Malaya

Tentang isinja nomor 9 ini, tak kami beri komentar, hanja terserah pada sdr2.

Sekianlah dari kami. Kepada jg baru datang kami utjapkan selamat datang, selamat bekerdja.”

Filmsiana lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org