
![]() |
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs |
still photo dari situs UNSW@ADFA - School of Humanities and Social Sciences
Balibo, atau Indonesia sebagai Monster yang Sempurna Lewat heboh film Balibo, tampaknya orang Indonesia dipaksa mencicipi bagaimana rasanya jadi obyek tudingan; jadi korban sebuah peruntuhan nama baik di ranah budaya pop. Di Hollywood kita tahu, orang Rusia, Jerman dan Arab pasti sudah kenyang sekali jadi sasaran. Contoh yang lebih dekat, penggambaran orang Belanda dalam film-film perjuangan kita juga sebetulnya tidak lebih dari pelabelan yang serupa, dan dilakukan oleh kita, orang Indonesia. Maka sebetulnya tidak usah terlalu kaget. Sudah jamak bagi pihak yang “menang”, untuk melakukan propaganda peruntuhan nama buruk atas pihak lawannya yang berfungsi sebagai penjahat dalam narasi itu. Saya ingin mengambil tiga contoh kasus penggambaran ekstrim atas sebuah bangsa dari tiga buah film: Inggris dalam The Patriot, Belanda dalam Merah-Putih, dan Indonesia dalam Balibo. Di dalam ketiganya, terjadi proses monsterisasi (sepertinya saya mengarang istilah ini, tapi Anda tahulah maksudnya) atas pihak “lawan”, masing-masing dengan latar agenda yang berbeda-beda. Tapi saya mengajukan argumen bahwa monsterisasi orang Indonesia dalam Balibo jauh lebih kental dan intens dibandingkan kebanyakan film lain. Proses The Patriot bisa menjadi semacam kitab suci bagi agenda politik sayap kanan AS yang ultranasionalis, atau bisa juga hanya karena Mel Gibson sedang mabuk. Merah-Putih dibuat ketika katanya terjadi penipisan nasionalisme di masyarakat kita. Tapi meskiun demikian, mengisi kekosongan nasionalisme itu dengan suntikan imaji yang chauvinis dan militeristis sepertinya juga bukan langkah tepat. Satu hal yang pasti: keduanya sama-sama membutuhkan musuh yang bisa dibenci bersama. Dalam The Patriot, Inggris digambarkan sebegitu kejam, sampai melakukan kejahatan perang yang tidak pernah ada catatannya dalam sejarah revolusi Amerika: membantai seisi desa dengan mengurung dan membakar mereka di gereja. Dalam Merah Putih, seperti yang diamati Eric Sasono, terjadi pengerasan persepsi atas Belanda. Jika dalam tren film-film perjuangan sebelumnya Belanda digambarkan sebatas kejam terhadap para “ekstrimis”, di Merah Putih Belanda bahkan tidak segan melakukan genosida nyaris tanpa alasan. Jika dugaan saya akan agenda awalnya tadi tepat, maka sesungguhnya Inggris dan Belanda hanya ketiban pulung saja, pernah menjadi musuh bagi pihak yang berkepentingan tadi. Bagaimana dengan Balibo? Tidak beda. Indonesia digambarkan sebagai golongan penjajah yang bengis, dan bahkan biadab. Hanya, ada sebuah kata “TAPI” yang besar di sini. Berbeda dengan The Patriot dan Merah Putih, Balibo seakan menyaru sebagai kisah perjuangan tak berdarah untuk mencari keadilan. Nyatanya, dia justru menyimpan banyak kesan dan pesan sampingan yang jauh lebih menyerang. Sebagai sebuah film tentang wartawan, Balibo berpeluang menjadi film cerdas (untuk tidak mengatakannya “rumit”) dengan menyelami dunia kewartawanan dengan segala problem peliknya: etika, konflik batin, dan segala resiko profesinya, mungkin seperti All the President’s Men. Lagi pula, sejak runtuhnya kepercayaan dunia (dan publik Amerika sendiri) terhadap pemerintah Amerika di masa administrasi Bush, sempat muncul kegandrungan terhadap cara bertutur “canggih” dengan sudut pandang luas dalam meneropong problem-problem pelik berskala global. Sebut saja dari yang sepenuhnya serius seperti Babel, Syriana, Crash sampai yang mulai bisa dicurigai mengekor, seperti Rendition dan Crossing Over. Sah belaka bagi filmmaker Australia untuk mengikut tren itu. Namun dalam Balibo, tampaknya mereka memilih jalannya sendiri. Sayangnya berbau propaganda. Bangunan konflik dan drama Balibo bergantung sepenuhnya hanya kepada kebiadaban orang Indonesia, meskipun di sana ada banyak peluang lebar untuk membangun drama. Misalnya tokoh Roger East awalnya digambarkan berkarakter kompleks, dan sepertinya mengalami konflik batin. Sayang, pada akhirnya tidak pernah terjelaskan, konflik apa yang menderanya. Malahan dengan cepat ia berubah jadi penuh tekad dan keberanian, demi menyaksikan kebiadaban pasukan Indonesia. Tokoh kelima reporter muda yang terbunuh juga setali tiga uang. Awalnya mereka diperlihatkan saling berkompetisi (antara 2 stasiun TV berita), dan ada peluang membahas kesalahan etis dan kecerobohan mereka dalam meliput konflik. Lalu film ini pun berpeluang mengkritisi kebijakan negara pembuatnya sendiri: tokoh-tokoh penting film, termasuk Jose Ramos-Horta, membahas kemunafikan negara-negara barat (AS dan Australia) yang sesungguhnya menyokong pengambilalihan Timor Timur oleh Indonesia. Tapi peluang-peluang itu lalu tertutupi oleh sapuan sebarisan pasukan Indonesia yang dengan entengnya menembaki setiap makhluk hidup. Konflik-konflik internal yang jauh lebih menantang tadi dengan lekas menjadi tidak penting, karena ada segerombolan orang biadab yang menyerbu. Si Liyan yang Sempurna Pertama, tidak ada sama sekali tokoh dari Indonesia yang dinamai. Dalam The Patriot, penonton masih disuguhi tokoh Kolonel Tavington sebagai antagonis, meski tugas utamanya adalah tersenyum menyebalkan, supaya dibenci penonton. Hal yang serupa bisa ditemui banyak sekali di film-film berlatar Perang Dunia, dengan tokoh perwira Jerman yang jadi tokoh antagonisnya. Di Balibo? Sama sekali tidak ada. Memang dalam adegan penembakan kelima wartawan, diperlihatkan seorang perwira bersyal panjang dan bertopi koboi, yang dengan dinginnya menembak seorang wartawan dari jarak dekat. Konon tokoh itu mengacu ke mendiang Kolonel Dading Kalbuadi, yang di dalam foto-fotonya dalam operasi penyerbuan (“integrasi”, jika Anda bersikukuh) sering tampil dengan dandanan seperti itu. Tokoh lain, dalam adegan yang sama, diperlihatkan mengenakan topi dan memimpin unit kecil satuan pembunuh itu dan secara pribadi menusuk setidaknya 2 di antara para wartawan. Konon, tokoh itu dimaksudkan sebagai Muhammad Yunus Yosfiah, karena lagi-lagi, dandanannya dibuat mirip. Dalam adegan penyerbuan Dili, seorang tokoh berkemeja safari putih berjalan petentang-petenteng sembari dikawal, membawa pistol. Dengan pistol itu, dia mengeksekusi para tawanan sipil secara acak. Lagi-lagi konon, pria itu dimaksudkan sebagai Benny Moerdani. Penggambaran para tokoh di atas bisa saja dianggap sebagai kesoktahuan saya, seandainya saja materi studi dari pembuat filmnya sendiri tidak menegaskan hal itu. Konsultan sejarah film ini, Dr. Clinton Fernandes dari University of New South Wales, membeberkan dalam situsnya bahwa tokoh-tokoh yang tak bernama itu memang didasarkan dari mereka yang disebut tadi.[1] Yang fatal adalah bahwa dalam filmnya sendiri, tokoh-tokoh itu menjadi tak bernama. Karakter mereka direduksi menjadi alpha-male bengis yang memegang kendali atas segerombolan pasukan biadab. Pada titik ini, ada yang bisa dipertanyakan kepada pembuat Balibo, dengan alternatif jawaban yang keduanya menguntungkan posisi Indonesia. Kenapa menjadikan tokoh-tokoh itu tak bernama? Alternatif 1: jika mereka berdalih tidak ingin menunjuk orang per orang sebagai pelaku kejadian yang masih sumir (karena toh secara teknis hukum Dading Kalbuadi dan Yunus Yosfiah masih belum terbukti sebagai pelaku), maka artinya sama saja mereka mengakui bahwa kejadiannya belum tentu seperti itu. Alternatif 2: jika sampai muncul pembenaran bahwa mereka berhak membuatnya seperti itu atas nama creative license, maka hipotesa saya tadi justru bisa terbukti. Tokoh-tokoh itu dihilangkan namanya untuk melucuti elemen kemanusiaan mereka. Kedua, setelah nama ditiadakan, bahasa dihilangkan. Dalam The Patriot setidaknya sang antagonis Kolonel Tavington masih berkesempatan melontarkan pembenaran-pembenaran: bahwa dia merasa lebih mulia dari orang yang dijajahnya; bahwa dia ingin menghabiskan masa tuanya menjadi tuan tanah di Amerika, karena yakin kebrutalannya membuat dia tidak lagi diterima di Inggris. Dalam Merah Putih, meskipun tidak dinamai secara eksplisit, tokoh perwira yang diperankan Rudy Wowor diperlihatkan sempat bertukar anekdot dengan prajurit yang menyupirinya. Adegan sederhana ini, meskipun mungkin ditujukan untuk semata membuat penonton dengan penuh harap menanti kehancuran mereka, menunjukkan bahwa mereka masih manusia. Bahkan orang Somalia di film Black Hawk Down masih lebih “beruntung”. Film itu dituduh menampilkan orang Somalia sebagai gerombolan liar yang dialognya tidak perlu dimengerti dan hanya perlu ditumpas. Sungguh pun begitu, masih ada tokoh yang mewakili mereka, yaitu komandan perang Mohammad Farah Aideed yang berkesempatan melontarkan pernyataan. Dalam Balibo nasib orang Indonesia lebih mengenaskan: tidak ada sebaris pun dialog yang dimaksudkan untuk dimengerti. Bahkan dialog yang diberi teks pun tidak[2]. Salah satu adegan yang menyolok soal ini adalah ketika empat dari lima wartawan itu telah terbunuh. Dalam reka adegan ini[3], Tony Stewart –perekam suara dari Channel 7– sempat meloloskan diri tapi terpojok di sebuah ruangan terkunci. Di dalam ruangan itu Tony digambarkan menangis sesenggukan karena tahu tidak mungkin bisa lolos lagi. Di luar, pasukan Indonesia yang mengepung saling bercanda dengan sesamanya, bersantai dan menyulut rokok, meremehkan status kewartawanan orang-orang kulit putih itu. Pada adegan ini, saya menyetel telinga demi mendengar apa yang akan mereka ucapkan. Awalnya hanya rasa penasaran saja, seberapa jauh orang melakukan riset bahasa terhadap sebuah bangsa yang ditudingnya. Ternyata hasilnya di luar dugaan. Saya tidak mendengar dialog yang bisa dimengerti. Justru pada adegan yang (mungkin) paling membutuhkan dialog berbahasa Indonesia, hanya terdengar gumaman dan tawa yang tidak jelas. Mendadak saya teringat pada penggambaran film-film klasik terhadap suku primitif kanibal yang siap menyantap sang jagoan. Teriakan macam “hula, hula!” dan tawa melecehkan sudah cukup untuk menggambarkan, makhluk seperti apa mereka. Memang sesekali terdengar beberapa kosakata yang familiar, di antaranya “keluar, cepat!”, “tembak, tembak saja”, dan “bunuh dia!”. Tapi yang penting adalah fakta bahwa teriakan-teriakan itu tidak mencederai narasi film jika tidak dimengerti. Hal ini berakibat lebih jauh: orang Indonesia sepenuhnya tampil sebagai monster yang elemen manusianya dilucuti tanpa sisa. Persepsi yang timbul atas pasukan Indoensia menjadi tidak lebih baik dari segerombolan orcs dalam trilogi Lord of The Rings. Makhluk-makhluk yang menggeram, meraung, mendesis dan bahkan menguik statusnya sama dengan “makhluk-makhluk” dari Indonesia yang berteriak-teriak dalam bahasa yang tak terpahami. Maka, kedua hal di atas bukan saja meniadakan sudut pandang dari Indonesia, tapi juga dengan efektif menjadikan orang Indonesia sebagai monster yang sempurna. Jika orang Inggris dan Belanda tampil sebagai the other (liyan) yang mengancam, orang Indonesia bahkan tampil sebagai liyan yang bukan manusia. Buruknya Manajemen Panik Kita Menurut hemat saya, sebetulnya Balibo gagal menjadi film yang berbobot. Banyak potensi drama dan konfliknya yang seharusnya bisa multidimensi, dengan cepat dialihkan ke serbuan “kaum biadab”. Pemerintah Indonesia, selaku wakil dari bangsa Indonesia sangat berhak mengajukan protes atau mendebat balik preposisi yang diajukan film ini. Namun, sayang seribu sayang, seperti biasa kita terburu nafsu, mengamuk, dan bertindak biasa: melarang film ini. Pelarangan –terutama dalam kasus kali ini– adalah sebuah langkah yang luar biasa blunder. Setidaknya ada dua alasannya, yang bersifat umum dan yang khusus. Alasan khususnya, yaitu bahwa Indonesia seharusnya merancang strategi yang lebih jitu dalam kasus ini. Saya ingin membandingkannya dengan sikap pemerintah Nigeria yang melarang film District 9 karena menampilkan orang-orang Nigeria sebagai semuanya penjahat. Padahal dalam kasus District 9, pergulatan persepsinya bermain dalam wilayah umum. Penonton yang agak cerdas sekalipun akan paham bahwa sesungguhnya tidak semua orang Nigeria penjahat. Sama halnya dengan memahami bahwa tidak semua orang Italia itu mafioso, atau tidak semua orang Arab itu teroris. Paling buruk, persepsi dunia internasional atas pelarangan itu adalah bahwa pemerintah Nigeria ngambek. Tapi masalah Indonesia dalam Balibo tidak sesederhana itu. Film Balibo berkenaan dengan sebuah peristiwa, sebuah insiden yang partikular, khusus, dan pernah terjadi. Akibatnya, melarang film Balibo tidak akan sekadar menimbulkan persepsi bahwa pemerintah Indonesia ngambek, tapi justru lebih buruk: yaitu bahwa pemerintah Indonesia menyembunyikan sesuatu. Apalagi selama ini argumen Indonesia sangat lemah: “mari melupakan masa lalu, dan melangkah ke depan”. Maaf saja. Norma internasional selalu menuntut bahwa suatu perkara harus dituntaskan dengan segala pembuktian, baru melangkah ke depan. Sikap “melupakan masa lalu” dan menampik “luka lama” hanya mempertegas sikap Indonesia yang takut menghadapi masa lalunya, dan memperburuk citra di dunia luar. Maka langkah yang lebih matang dan terstrategi seharusnya dilakukan. Alasan umumnya tentu adalah bahwa melarang sesuatu sama saja dengan membungkam kontroversi, perdebatan, dan menampik perbedaan. Film adalah sebuah karya yang terbuka pada berbagai tafsir. Jika tidak setuju pada sebuah isi filmnya, langkah bijaknya adalah melalui perdebatan atau adu argumen yang sehat, atau lebih baik lagi, adu karya. Pemberangusan sebuah karya sama saja dengan sikap emosional yang menunjukkan ketidakdewasaan, atau malahan, jangan-jangan menunjukkan ketakutan, karena yang dituduhkan benar adanya. Bisakah kita membuktikan diri memang bukan monster? * * * NOTES [1] Data sejarah dikumpulkan dari Australia, Timor Leste, Amerika Serikat dan Portugis. Tidak satu pun bersumber dari Indonesia. Untuk lebih jauh tentang hasil riset Dr. Clinton Fernandes, silakan memulai di http://www.unsw.adfa.edu.au/hass/Timor/index.html |
|
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org. Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik © 2007 rumahfilm.org |