photo: Yasmin Ahmad's Flickr page

Mengenang Yasmin Ahmad: Kenyataan yang Tak Bisa Ditampik
oleh Hikmat Darmawan
Redaktur Rumahfilm.org

“Most people choose vengeance. I choose to make chicken salad.”
— Yasmin Ahmad

Kabar itu begitu tiba-tiba. Dalam sebuah meeting dengan antara lain Siti Nurhaliza, Yasmin Ahmad jatuh pingsan. Ia langsung dibawa ke rumah sakit, dan diketahui ia mengalami stroke dan pendarahan otak. Di rumah sakit Damansara, 25 Juli 2009, ia meninggal, pada usia 51.

Sineas Indonesia, bersama para insan film di Asia Tenggara, khususnya, tersentak, berduka. Yasmin Ahmad sedang menanjak di pelataran film dunia. Film panjangnya baru enam (yang pertama, Rabun, dibuat pada 2002; semuanya diputar di JIFFEST 2009), tapi berderet penghargaan internasional telah ia dapat. Bukannya hal ini tanpa harga. Di negerinya sendiri, ia sering ditampik. Film-filmnya sering memancing kontroversi di kalangan konservatif Melayu.

Secara singkat, para pencelanya menuduh Yasmin bicara hanya untuk Barat, film-filmnya tidak menggambarkan “realitas Malaysia”. Sebaliknya, para pendukungnya justru menganggap film-film Yasmin berani mengungkap kenyataan Malaysia apa adanya. Maka, kita bisa simpulkan, film-film Yasmin menjadi medan perselisihan, pergesekan, perseteruan, bahkan pertumbukan kenyataan Malaysia kiwari.

Yasmin sendiri sering mengungkap keheranannya akan segala keributan terhadap film-filmnya. “Saya sungguh kaget bahwa film-film saya kontroversial. Orang-orang kok kaget melihat perempuan berbaju kurung pergi ke pesta dalam film saya. Itu bukan yang terburuk yang bisa dilakukan seorang perempuan Melayu. Film saya amatlah lunak, jika dibandingkan dunia nyata.”

Soal kecenderungannya mengangkat hal-hal sensitif, Yasmin bilang, “Saya perlahan merasa bahwa karya-karya saya percuma sampai diributkan segala. Maksud saya mengangkat hal-hal sensitif adalah agar orang-orang bisa mendiskusikannya dengan beradab. Hal itu tak terjadi.”

Walau tampak ia mempertanyakan sendiri pilihan-pilihannya sebagai seniman yang ternyata menuai cerca dan tampik, Yasmin tak pernah takut masuk ke isu-isu gelap negerinya: dominasi dan kuasa Melayu, percintaan antaragama, percintaan antar-ras, dan kuasa moralitas agama yang konservatif.

Menariknya, ia sering mengangkat itu semua dengan cara-cara halus, lewat bahasa imaji yang puitik dan tak cerewet. Misalnya, dalam Gubra, ia menuai kontroversi antara lain dengan adegan seorang merbot masjid ramah bermain dengan seekor anjing dalam perjalanannya menuju masjid untuk shalat subuh. Dan biasanya, lewat kehalusan itu, kita perlahan dijerat pada situasi humor yang nakal.

Dalam kehalusannya, Yasmin menggambarkan ledakan-ledakan batin dan guncangan sosial yang rupanya mengejutkan banyak orang. Ia menggambarkan kemesraan dan kedalaman cinta dua orang beda ras dan agama dengan rileks. Ia menggambarkan keluarga dengan “disfungsi kultural” (misalnya, suka mandi bareng) dengan memikat. Begitu memikat, hingga seolah yang disfungsional kemudian adalah mereka yang tak mampu menerima keluarga itu. Ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan tajam pada agama lewat mulut kanak.

Semua itu bergumul dengan kecenderungan Yasmin sendiri yang, seperti pengakuannya di blog, “amat sangat optimistik dan sentimental, sampai-sampai mengganggu orang.” Yasmin yang memasuki sudut-sudut gelap hidup manusia maupun bangsanya, adalah seorang yang tak percaya pada hal-hal muram sebagai akhir jawaban. “Seni yang tak menampakkan kilasan Tuhan adalah sebuah kesempatan yang terlewat (missed opportunity). Dan jika kita bicara Tuhan, kita bicara harapan....”

Keyakinan ini agaknya melumuri seluruh proses pembuatan film-film Yasmin. Hingga modus produksinya pun menggambarkan keyakinan dan percaya diri itu. Untuk film-filmnya yang efektif mencipta citra demi pesan-pesan yang menancap dalam kenangan para penontonnya, Yasmin bisa menulis naskah cepat, dan mengambil gambar-gambar yang hemat, tak perlu banyak kaleng film atau berlarat-larat menyorotkan kamera. Artinya, ia tahu belaka apa yang hendak ia ucapkan dalam film-filmnya. Terhadap keyakinan besar macam begini, bagaimana bisa kita menampiknya?

Yasmin, saya rasa, keyakinan macam itulah yang hilang pada kebanyakan pembuat film Indonesia belakangan ini.

* * *

Artikel lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org