
![]() |
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs |
![]() Ho Yuhang is in Town ![]()
37th International Film Festival Rotterdam HARI KETUJUH: Rabu (3O Januari 2008) Berada di De Doelen pagi hari memang selalu membawa berkah. Semua orang (sutradara, produser, professional lainnya) selalu mengawali pagi di lantai tiga. Pagi-pagi, Ho Yuhang yang baru saja menang Tiger Award untuk film pendeknya, As I Lay Dying sudah beredar. Saya langsung memperkenalkan diri dengan tak lupa menyebut RumahFilm. Karena lantai tiga belum lagi banyak orang, saya pun mendaulat Yuhang untuk berfoto dengan latar belakang ruang besar itu. Yuhang pun sibuk bergaya, tapi tidak membiarkan saya memotret begitu saja. Setiap kali habis 'klik' dia akan mengecek. Usai sesi foto kecil-kecilan kami, ia pun memilah-milah. Usai bermain-main dengan Yuhang, muncul Garin Nugroho yang juga baru tiba malam sebelumnya. Seperti biasa, Garin selalu jadi favorit ‘anak-anak’ Malaysia dan Philipina. Yuhang langsung mengajak, “Karaoke ya nanti malam.” Garin langsung senyum-senyum mengiyakan. Tahun lalu, mereka mengajak main futsal, tahun ini karaoke rupanya jadi pilihan. Karena itu, di Rotterdam, Garin selalu merasa jadi muda kembali. Baru saja ngobrol sejenak dengan Garin, tiba-tiba Lorna Tee, salah satu produser mumpuni dari Asia Tenggara datang menegur. Garin membujuk-bujuk Lorna. “Ayolah Lorna, carikan saya dana untuk film saya.” “Wah, kamu sih sudah kaya. Sudah terkenal. Kamu tidak butuh saya lagi,” kata Lorna. Garin langsung pasang wajah memelas. “Kaya dari mana?”. Setelah itu percakapan berkembang jauh. Lorna sedang menangani proyek Ho Yuhang yang akan mulai syuting tahun ini. Lorna juga berencana untuk menangani sutradara Indonesia kelak. Menurut Garin, Lorna adalah salah satu produser yang punya jaringan luas di dunia festival, karena itu ia bisa diandalkan. Kemudian muncul Alain Jalladeau, direktur Festival des 3 Continents Nantes yang langsung memberi selamat kepada Garin karena Opera Jawa akan segera rilis di Perancis dan Belgia. Seperti Lorna, Alain juga mencandai Garin. “Kamu ini tetap awet muda, tetap seperti ketika saya bertemu pertama kali sekitar 10 tahun lalu. Ini pasti karena sekarang kamu banyak duit,” kata Alain. Garin pun terbahak-bahak. “Bukan begitu, tapi saya memeriksa keuangan setahun sekali, jadi stressnya paling setahun sekali,” kata Garin. Kami masih ngobrol dengan Jalladeau yang menganggap Opera Jawa adalah masterpiece-nya Garin Nugroho ketika Simon Field datang dimeja kami. Field adalah produser eksekutif Opera Jawa dan film-film Garin selanjutnya. Saat Field (mantan direktur IFFR dan sekarang jadi konsultan di berbagai festival) bergabung, pembicaraan meluas lagi ke soal distribusi film-film dan bagaimana menembus berbagai festival dunia khususnya Venice, Berlin dan Cannes. Sayangnya, Field dan Garin harus menuju arena Cinemart di ruang lain, sehingga pembicaraan yang mulai menarik itu terpaksa terhenti. Hari ini adalah hari saya bebas memilih film. Kecuali Las Meninas (karena tidak menemukan waktu yang pas), saya sudah menonton seluruh film di seksi kompetisi. Setelah melihat semua, jagoan saya adalah Flower In The Pocket (Malaysia), Years When I Was A Child Outside (Philipina), dan Wonderful Town (Thailand). Karena Las Meninas sudah tidak diputar lagi, siang itu saya memilih Redacted karya Brian De Palma di seksi Time & Tide. Terus terang saja, saya shock berat. Saya ingat pembantaian Daniel Pearl, --dalam A Mighty Heart, Winterbottom sengaja tidak memunculkan footage-nya--. Saya menyaksikan pembantaian itu di salah satu situs video online. Butuh waktu cukup lama hingga saya bisa tidur normal sejak menyaksikannya. Dalam Redacted, adegan itu diulang dan kali ini korbannya adalah salah seorang tentara Amerika, yang rajin membawa kamera video kemana-mana. Kamera itu jadi saksi banyak hal, termasuk pemerkosaan, pembantaian sebuah keluarga dan juga jadi saksi penculikan pemiliknya. Dan kamera yang sama juga digunakan oleh rekan-rekannya untuk menjadikan peristiwa itu sebuah guyonan yang sungguh tak lucu. Selain fenomena kamera video, Redacted juga menunjukkan fenomena situs video online dimana saya sudah jadi korbannya. Terus terang saja, film ini membuat saya pusing. Banyak hal yang membuat saya harus memalingkan wajah dari layar karena tidak sanggup menyaksikan 'kebenaran' yang disodorkan oleh film itu. Redacted makin mengingatkan saya, betapa makin kacaunya dunia saat ini. Redacted membuat suasana hati saya campur aduk. Setelah menonton Redacted, saya kemudian meminta pendapat dari beberapa orang untuk merekomendasikan film komedi. Sebagian dari mereka menyarankan saya menonton You, The Living karya Roy Andersson di seksi Kings & Aces. Banyak yang bilang film ini lumayan ringan dan lucu. Jadilah saya menuju Venster untuk menyaksikan film itu. Tapi You, The Living tidak juga membuat suasana hati saya membaik. Film ini lucu dengan cara yang aneh. Sebuah black comedy sinis, lucu tapi menyakitkan. Kepala saya makin pusing. Atau mungkin karena kepala saya sudah penuh, kekenyangan menonton film. Setelah menonton You The Living, saya kembali ke De Doelen dan berniat berhenti untuk menonton. Tapi melihat waktu yang masih terlalu sore, saya memutuskan untuk menonton satu film lagi karya Aoyama Shinji, Sad Vacation di seksi Kings & Aces. Saat sedang mencari tempat yang nyaman di dalam ruang bioskop, saya kembali bertemu dengan para juri muda itu. Seperti biasa mereka tetap berisik. Dari jauh, mereka sudah berteriak kearah saya, “Kamu tahu, kami sudah menentukan 3 nominasi. Kamu boleh tahu nominasi kami, tapi belum boleh tahu pemenangnya. OK?. Nominasinya adalah Tricks, Paranoid Park, dan Persepolis. Kamu bisa menebak yang mana pemenangnya?”. Saya langsung senyum senyum. “Persepolis!” kata saya mantap. Mereka melongo sejenak. “Hmmm...mungkin juga. Nanti malam kamu akan tahu,” kata mereka sok misterius. Pemenangnya memang Persepolis. *** HARI KEDELAPAN: Kamis (31 Januari 2008) Hari ini, saya mengosongkan jadwal menonton film. Jadwal saya penuh dengan jadwal wawancara. Sedari pagi, saya sudah siap sedia di De Doelen, menyiapkan meja, laptop, dan kamera, lalu duduk menunggu seperti dokter gigi menunggu pasien. Tak lama petugas pressdesk mengabarkan bahwa Omar Shargawi, sutradara Go With Peace Jamil terpaksa membatalkan wawancara hari itu karena harus berada ditempat lain. Satu pasien saya hilang pagi itu. Saat sedang duduk sendiri menikmati kopi tidak sengaja saya bertegur sapa dengan pria hitam yang sedang mencari tempat duduk. Jadilah kami berkenalan. “Nama saya Michelange Quay,” sapanya ramah. Ia adalah sutradara Mange, Ceci Mon Corps, film surealis yang pernah saya ceritakan di diary sebelumnya. Jadilah kami terlibat percakapan panjang tentang filmnya itu yang mungkin nanti akan saya bagikan kepada pembaca RumahFilm; Disela-sela percakapan tiba-tiba Garin Nugroho muncul menyapa. Mereka saling berkenalan. Lalu dengan bercanda, Quay bilang, “Oh, kamu datang memotong wawancara saya, sekarang saya harus pamit,” katanya sambil berlalu. Kemudian dari jauh, saya melihat pria berkucir yang berjalan dengan mata seperti menerawang. “Halo, bukankah anda Bela Tarr? Saya yang meminta waktu anda untuk ngobrol,”. Bela Tarr yang saya tegur seperti baru tersadar dari lamunan yang nyaman. “Oh ya...sekarang ya? Di mana kita bisa ngobrol?”. Lalu saya membawanya ke meja saya dimana Garin sedang duduk menunggu seorang wartawan yang akan mewawancarainya juga. Jadilah Garin dan Bela Tarr saling bertegur sapa. “Kita pernah bertemu di Berlin sekitar tahun 90-an,” kata Garin. Mereka ngobrol sejenak, sementara saya memesan kopi untuk Bela Tarr. “Weihhh...kamu mau wawancara sama dia? Film-filmnya gila tuh...dia salah satu sutradara hebat,” bisik Garin. Meski sudah siap sedia dan juga menyiapkan sejumlah pertanyaan sehari sebelumnya, kata-kata Garin lantas membuat saya nervous. Bela Tarr adalah refleksi dari film-filmnya sendiri. Seorang pria muram, sedih dan humble. “I'm drying, I have no illusions anymore,” katanya muram (percakapan selengkapnya tunggu hanya di Rumah Film). Bela Tarr adalah salah satu sutradara yang dibesarkan di festival film Rotterdam. Ia datang ke IFFR pertama kali 28 tahun yang lalu dan karena itu setiap kali punya film baru, sebisa mungkin filmnya akan diputar difestival yang sudah berlangsung selama 37 tahun ini. Usai ngobrol dan mendengar curhat Bela Tarr, 'pasien' saya selanjutnya adalah Liew Seng Tat sutradara Flower In the Pocket. Jauh berbeda dengan Tarr yang cenderung muram, pembicaraan dengan Seng Tat penuh keceriaan. Disatu sisi ia banyak bercanda, disisi lain, ia bisa menjelaskan dengan serius prinsip-prinsipnya membuat film. Ia banyak bercerita tentang proses kerjanya di Da Huang dan mengapa ia tidak bisa meninggalkan pekerjaan tetapnya sebagai animator. Setelah Seng Tat, selanjutnya yang muncul di meja saya adalah Gertjan Zuilhof, programmer IFFR yang khusus menangani dan mengumpulkan film-film dari Asia. Zuilhof mengaku terlambat tahu tentang perkembangan film-film di Asia. Sebelumnya, ia tidak pernah tertarik untuk mendalami Asia karena persoalan bahasa dan budaya. Dan sekarang Zuilhof mengaku menyesal pernah menolak tawaran untuk mengkuratori film-film di wilayah Asia. Tapi tak ada kata terlambat, sekarang, Zuilhof mulai paham peta perkembangan industri film di Asia dan berbagi pengetahuan dengan RumahFilm. Menjelang sore, 'pasien' saya berikutnya adalah John Torres, sutradara Years When I Was A ChildOutside, salah satu film favorit saya di IFFR. Torres juga adalah representasi filmnya sendiri. Seorang anak yang sedang mencoba menata hidupnya kembali. Meski berusaha nampak ceria, banyak nada pesimis dan tidak percaya diri dalam kata-katanya. Acara saya selanjutnya adalah makan malam undangan dari para programmer festival dimana para konsultan-konsultan, programmer-programmer dari berbagai festival dunia berkumpul membicarakan film-film pilihan mereka di IFFR dan kemungkinan film-film itu akan diputar atau tidak di festival mereka. Disebuah meja bundar besar yang seakan berubah fungsi jadi forum, banyak film dibicarakan dan dianalisa dengan berbagai pertimbangan sesuai dengan karakter masing-masing festival. Dari makan malam ini, setidaknya sedikit demi sedikit saya punya gambaran seperti apa dunia festival itu. Malam ini, saya langsung berniat untuk belajar lebih banyak lagi tentang film, festival dan industrinya.*** |
|
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org. Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik © 2007 rumahfilm.org |