Liew Seng tat in the news


Klik gambar untuk memperbesar

37 th International Film Festival Rotterdam
Para Bintang: Sutradara
oleh Asmayani Kusrini
Redaktur Rumahfilm.org, Rotterdam

HARI KETIGA (Sabtu, 26 Januari 2008)

De Doelen makin ramai. Tamu-tamu sudah berdatangan. Pagi itu saya bertemu lagi dengan Edwin, Tan Chui Mui dan Geertjan Zuilhof, salah satu programmer yang khusus mencari film-film diwilayah Asia. Lagi-lagi, nama Edwin yang cuma satu suku kata itu jadi bahan awal pembicaraan. Mui misalnya, setiap kali memperkenalkan Edwin, pasti akan mulai dengan pernyataan: This is the man with the weird name...oh not weird but it only has one word. Edwin.

Kami duduk satu meja untuk saling tukar informasi. Edwin ngobrol dengan Mui yang rupanya masih sibuk membicarakan soal nama 'satu suku kata'nya. Saya dengan Geertjan soal kecenderungan pendanaan di Cinemart dari tahun ke tahun.

Menurut Geertjan belakangan ini, para produser dan pemilik dana sedang banyak melirik proyek-proyek film dari Romania. Tapi tak perlu berkecil hati, selalu terbuka kemungkinan yang besar untuk film-film lainnya; “Semua sangat tergantung dari faktor keberuntungan. Kami sebagai programmer tidak bisa memprediksi sama sekali,” kata Geertjan. Sementara Mui asyik mengutak-atik kamera dan menjadikan Edwin sebagai objeknya.

Terlihat sutradara muda John Torres dan Khavn asal Philipina datang mendekat. Tahun ini, mereka datang tanpa Raya Martin yang sedang menyelesaikan film panjangnya di Filipina. Setelah saling menyapa, saya mohon diri karena harus mengejar pemutaran film pertama pagi itu. Sebelum saya 'kabur', Geertjan berjanji untuk menyediakan waktu khusus ngobrol soal film-film Indonesia. (tunggu wawancaranya di Rumah Film).

Pagi ini dibuka dengan film dari seksi kompetisi utama, Mange, Ceci Est Mon Corps (Eat, For This Is My Body) karya sutradara asal Haiti, Michelange Quay. Sebuah film surealis yang banyak menggunakan metafora. Film ini juga punya potensi bagus sebetulnya. Apalagi awalnya yang cukup 'catchy', travel shot dari udara menyusuri laut biru, kelompok perumahan kumuh, anak-anak kurus yang bermain tanah, dan seterusnya.

Setelah itu sebuah monolog dingin, rintihan seorang ibu yang merasa sudah dimanfaatkan oleh anak-anaknya hingga tak ada lagi yang tersisa kecuali tubuh renta. Monolog ini seperti sebuah perumpaan terhadap hubungan Haiti –bekas jajahan Perancis yang kaya sumber alam-- dengan Perancis, sekaligus juga sebuah metafora kulit putih dan kulit hitam. Hingga disini, Mange masih menyimpan daya magis itu, masih menarik untuk terus ditonton hingga kemudian arahnya makin tidak jelas dan saya tersesat. Nilai positifnya adalah, shot dan sekuen di film ini mengingatkan saya dengan karya-karya maestro surealis, Salvador Dali.

Selanjutnya saya harus berjalan kaki 10 menit dari De Doelen ke Cinerama. Kali ini saya menonton film seksi kompetisi utama karya sutradara asal Filipina, John Torres, Years When I Was A Child Outside. Setiap filmgoers yang datang di festival ini sudah paham, film-film di seksi kompetisi utama Rotterdam pada umumnya adalah film yang tidak menggunakan 'cetakan' yang sudah ada. Dan saya harus angkat topi pada John Torres yang sungguh-sungguh memperlihatkan tiadanya ‘cetakan’ baku dalam membuat film.

Years When I Was A Child Outside adalah film cerita dengan gayanya yang radikal. Saya akan menggambarkan film ini begini: anda pasti pernah mengalami bercakap dengan seseorang tapi pikiran anda bergentayangan kemana-mana. Kadang anda bercerita sambil membayangkan peristiwa yang sedang anda bicarakan itu, tapi kadang juga anda bercerita tapi membayangkan sesuatu yang sama sekali berbeda.

Years When I Was A Child Outsideadalah Torres sendiri yang sedang bercerita tentang kekecewaan terhadap ayah yang selama ini diidolakannya. Ia marah kepada ayahnya yang ternyata punya wanita simpanan, bahkan punya anak lain. Lalu terjadi perubahan yang besar dalam ekonomi keluarga sehingga mereka harus pindah dari rumah besar bertingkat ke rumah kumuh yang pengap. Torres menceritakan ini dengan sedih. Apalagi saat mengunjungi rumah lama mereka dimana Torres menunjukkan tempat-tempat kenangan didalam rumah itu dengan nada pahit.

Belum juga bisa berdamai dengan setiap peristiwa itu, Torres memilih 'kabur'. Ia berkelana dengan kamera. Bertemu dengan banyak orang, mendengar banyak kisah dan merenungi hidupnya sebagai 'anak hilang'. Bahwa film ini terlihat kacau balau dengan berbagai macam orang dan berbagai macam cerita, karena memang begitulah adanya ketika Torres menjadi 'anak diluar rumah'; Ia bukannya tersesat.

Saya pribadi tidak mengenal Torres, saya hanya tahu bahwa ia adalah satu dari tiga sutradara muda Philipina –dua lainnya adalah Khavn dan Raya Martin-- yang diramalkan akan mengikuti New Wave-nya Malaysia. Setelah menonton film ini, saya langsung menghubungi staff bagian Pers untuk meminta waktu wawancara dengan Torres. Saya berharap bisa membagikan percakapan saya dengan Torres kepada Anda.

Selanjutnya, saya kembali lagi ke Willem Burger Zaal di De Doelen untuk menonton Juno yang ada diseksi Sturm Und Drang. Juno disebut-sebut sebagai 'saingan Little Miss Sunshine' bahkan ada yang menyatakan film ini lebih bagus. Jujur saja, menurut saya, Little Miss Sunshine adalah film yang baik dan cukup menghibur tapi tidak istimewa. Biasa aja. Nah, kalau Junodiklaim lebih bagus, mungkin memang selera film saya yang masih perlu diasah.

Juno adalah cerita tentang gadis belia usia 16 yang hamil karena sekedar ingin mencoba bermain seks. Kalau Anda berpikir film ini akan mempermasalahkan kehamilan remaja itu, Anda salah. Film ini seperti ingin bilang, wong sudah hamil, mau diapakan lagi? Lebih baik berpikir bagaimana menghadapinya. Pilihan bagi Juno, nama gadis belia itu, adalah aborsi atau mencari orang tua yang baik untuk mengadopsi anaknya itu. “I'm not ready to be a parent”, kata Juno dengan gaya cool.

Dibantu dengan orang tua dan temannya Leah – seorang Britney Spears wannabe--, Juno pun menemukan orang tua impian untuk anaknya itu. Masalah memang ada, tapi tidak dianggap perlu. Film inipun berakhir dengan cool, seperti gaya Juno yang mirip Avril Lavigne, dengan gaya bicara yang nyaris sama dengan semua karakter-karakter remaja di film: cool. Singkat kata: everything is cool!

Entah kenapa film ini masuk kategori Sturm Und Drang (SD). Padahal seksi SD ini punya komitmen untuk menemukan sutradara-sutradara muda yang inovatif, yang sedang mengembangkan gaya baru dalam cara bertutur di atas layar. Sementara Junoadalah film yang mengikuti seluruh poin-poin yang ada di buku-buku teks membuat film. Aneh. Juno jadi seperti mahluk steril ditengah laboratorium yang sedang melakukan eksperimen menciptakan mahluk baru.

Usai menonton Juno, saya kemudian hilir mudik di De Doelen dan lalu bergabung dengan Ekky. Tak sengaja, kami bertemu dengan Mira Lesmana dan Riri Riza yang baru saja tiba. Setelah ngobrol sebentar, saya pamit dan berjalan menuju Cinerama untuk menonton The Man from London karya terbaru sutradara asal Hungary, Bela Tarr. Sebetulnya, saya sudah menonton film ini beberapa waktu lalu, tapi karena Bela Tarr rencananya akan datang ke Rotterdam, rasanya saya perlu mengamati film ini lagi.

The Man From London (masuk kategori Kings & Aces) dibuat dengan warna hitam putih suram dan menggunakan long take sebagai narasi visual. Saya ingat, seorang wartawan asal India pernah mengeluh, 'It takes forever to watch them eating their soup'. Itulah Bela Tarr. Seperti juga Satantango (durasinya sekitar 7 jam), atau Werckmeister Harmonies, Tarr berusaha meminimalisasi sentuhan editing di The Man. Di Werckmeister Harmonies misalnya, hanya ada 39 takes, itupun terpotong karena batas maksimal film Kodak adalah 300 meter (sekitar 11 menit).

The Man from London seperti rasa gelisah yang tersembunyi saat seorang pria menjadi saksi sebuah pembunuhan dan kemudian menemukan sebuah kopor penuh uang. The Man pun masih setia pada komitmen Bela Tarr untuk membuat film sebagai sebuah perjalanan psikologis dimana setiap bahasa tubuh karakter-karakternya diamati dengan teliti.

Usai menonton The Man, saya 'terbang' lagi ke Pathé untuk menonton salah satu film di seksi kompetisi Waltz in Starlight. Film ini adalah film pertama karya salah satu fotografer ternama Jepang, Shingo Wakagi. Seperti Years When I Was A Child Outside, Waltz in Starlight pun adalah cerita personal tentang kakek Wakagi. Sejak memulai karir sebagai fotografer, kakek Wakagi ini adalah objek favorit kamera fotonya.

Waltz adalah cerita yang menyentuh tentang kenangan Wakagi terhadap sang kakek. Meski matang sebagai fotografer, Wakagi tidak mengekseskusi filmnya seperti ketika ia memotret objek. Kamera film tidak diperlakukannya seperti kamera foto. Wakagi seperti sengaja menghindari komposisi-komposisi fotografis dan memilih fokus terhadap ceritanya.

Untuk ini, Wakagi rupanya masih tertatih untuk bertutur menggabungkan dua bahasa, lisan dan visual. Di beberapa bagian, Waltz tidak mengalir mulus. Misalnya saat tiba-tiba Wakagi memasukkan footage tentang kehidupan dua sahabat karibnya sejak kecil –salah satunya autis--. Buat saya, bagian ini terasa dipaksakan.

Alasannya, dia memang ingin memberikan peran kepada dua sobat karibnya ini. “Kami tumbuh bersama, setiap kali saya pulang, saya pasti bergaul dengan mereka, tapi sampai saat itu, saya tidak pernah tahu seperti apa kehidupan mereka, bagaimana mereka ditempat kerja. Dan film ini adalah satu-satunya cara,” kata Wakagi di sesi tanya jawab setelah pemutaran film.

Dalam sesi tanya jawab itu, Wakagi yang terlihat gugup dan mengaku tidak menyangka akan 'dimintai pertanggungjawaban' atas film itu. “Saya membuat film ini untuk kakek saya yang meninggal beberapa waktu lalu. Di Jepang juga hanya diputar di sinema-sinema kecil. Terus terang saja, saya kaget film saya diputar di sinema sebesar ini, di layar yang sangat besar pula,” kata Wakagi.

Karena itu, mendapat pertanyaan-pertanyaan detail tentang sekuen-sekuen di filmnya, Wakagi banyak menjawab: saya tidak berpikir sampai kesitu. Rupanya ia belum siap mendapat perhatian yang begitu rupa.

Malam itu saat waktu sudah menjelang tengah malam, saya bersama Ekky, Nuriani Juliastuti --pendiri Kunci Cultural Studies, Yogyakarta-- dan Gan Siong King (Art Director film Flower In The Pocket) bersantai sejenak di Leziz, kedai kebab persis diseberang De Doelen. Kami ngobrol soal kecenderungan festival Rotterdam yang lebih menganggap sutradara adalah bintang. Gan bercerita: “Seng Tat pun pusing menerima perhatian seperti layaknya bintang. Pening kepalanya !. Artis atau aktor yang mau jadi selebritis disini, sepertinya harus mencari tempat lain.” ***

Artikel lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org