
![]() |
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs |
![]() ![]()
37th International Film Festival Rotterdam HARI PERTAMA (Kamis 24 Januari 2008): Ucapan Selamat Datang Musim dingin di bulan Januari tidak pernah jadi masalah di Rotterdam. Khususnya bagi saya dan filmgoers yang setiap tahun kembali dan kembali lagi ke Rotterdam Film festival. Apalah artinya cuaca minus jika dibandingkan dengan semangat dan kehangatan para penyelenggara festival saat menyambut tamu-tamunya? Dengung dari berbagai sudut venue festival terdengar seperti dengung lebah menikmati madu. Dan saya, mewakili RumahFilm, sekali lagi beruntung mendapat kesempatan menjadi bagian dari festival itu. Dalam perjalanan menuju Rotterdam dari Brussel, saya merasa sudah langsung disambut oleh festival ini sejak dari perbatasan Belanda-Belgia. Poster-poster festival ini sudah tersebar disetiap pemberhentian kereta sejak memasuki negeri Belanda. Poster hitam putih dengan siluet macan mengaum itu seperti berteriak mengundang, datang dan saksikanlah Festival Film Rotterdam. Dan ketika akhirnya saya tiba di Rotterdam, dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, saya sudah berada didepan penerima tamu. Dan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya pula, saya sudah punya akreditasi yang membuat saya punya akses ke setiap pemutaran film, setiap pesta tengah malam, setiap acara jumpa sutradara, dan berbagai macam acara lainnya. Dan ketika si penerima tamu yang ramah itu bilang "Selamat menikmati festival ini dan selamat menonton film", dengan senyum selebar-lebarnya, saya jawab : Pasti dong !!!. Beberapa kali mengunjungi berbagai festival film, saya bisa mengambil kesimpulan, festival ini adalah festival yang paling efisien dalam menata program-programnya. Panitia, khususnya yang mengurusi 'kecerewetan jurnalis', masih bisa dipercaya. Tidak ada upaya untuk merentang jarak antara tamu-tamu khususnya dengan publik. Segala upaya interaksi dan komunikasi –entah itu antara filmmaker dengan jurnalis, atau dengan industri di Cinemart, atau dengan para programmer-- semua dimediasi dengan baik. Cukup datang ke meja tamu, daftarkan nama dan siapa-siapa saja yang ingin anda temui. Hasilnya sejak detik itu juga saya langsung tahu: Aleksandr Sokurov tidak punya kesempatan untuk wawancara 'face to face'. Ulrich Seidl hanya datang sehari untuk presentasi filmnya, Masahiro Kobayashi bisa diwawancara dan informasi lainnya. Dengan efisiensi seperti ini, berarti saya juga sudah bisa mengatur jadwal menonton saya sejak hari pertama tanpa ada sedikitpun waktu terbuang untuk menunggu sesuatu yang tidak jelas. ATURAN MENGATUR Peringatan keras: be focus! Itu yang tertanam di kepala saya dan sudah sering diperingatkan oleh teman-teman saya setiap kali mengunjungi Rotterdam Film Festival. Masalahnya adalah ada banyak seksi film di Rotterdam. Yang paling utama tentu saja seksi VPRO Tiger Awards Competition dimana masing-masing film akan berlaga untuk memenangkan penghargaan utama dan uang tunai yang cukup untuk membuat film lagi. Lalu ada Sturm Und Drang (ini adalah seksi tempat bagi para sutradara yang berani bereksperimen dengan bentuk dan berusaha menciptakan bahasa baru), Time & Tide (dimana perubahan global berpengaruh pada kisah personal para pembuat filmnya), Kings & Aces (darai para sutradara-sutradara yang sudah punya nama dan sudah punya cukup ouvre), Short: As Long As It Takes (seperti judulnya, disinilah tempat dan ruang khusus untuk film film pendek dari berbagai belahan dunia), Cinema Regained (film-film klasik dari jaman baheula), Rotterdammerung (film-film fantasy, horor, dan hal-hal tak menyenangkan lainnya), In Focus (film-film dari sutradara pilihan) dan Exploding Cinema (yang menggabungkan medium video, instalasi, presentasi dan performa yang muncul sebagai atau dampak dari sinema). Berdasarkan pengalaman tahun lalu, karena kalap mata, saya akhirnya kebingungan sendiri untuk menyimpulkan pengalaman menonton saya. Semua film ingin ditonton sementara waktu tak cukup panjang untuk ratusan film yang diputar itu. Tahun ini, saya sadar diri, mencoba menekan nafsu untuk menonton semua. Saya memutuskan untuk fokus pada film-film diseksi kompetisi, beberapa film diseksi Kings & Aces, satu atau dua film di Time & Tide dan satu program di Short: As Long As It Takes. Selain seksi kompetisi –saya mewajibkan diri saya sendiri untuk menonton semua--, saya membuat aturan main yang ketat untuk menonton film-film diseksi lain. Aturan mainnya: hindari menonton film mainstream kecuali kalau terpaksa. Aturan itu sebetulnya kurang kuat juga, karena film-film yang diputar di festival ini jelas bukan mainstream. Tapi saya tidak akan membahas ini lebih jauh karena saya sadar betul, aturan main dibuat untuk dilanggar. Meski waktu sudah menjelang sore, saya beruntung masih bisa menonton dengan santai satu film dari seksi kompetisi dan satu film dari seksi Kings & Aces. Film pertama yang saya tonton adalah film dari negeri tetangga Malaysia, Flower in The Pocket karya Liew Seng Tat. (Ikuti wawancaranya hanya di RumahFilm). Saya sungguh tidak menyangka, James Lee bisa berakting bagus di film ini. Yang menyenangkan dari menonton Flower In The Pocket adalah cara bertahan hidup kelompok laki-laki dan kelompok perempuan. Kelompok laki-laki terdiri dari ayah dan dua anak lelakinya. Kehadiran perempuan diantara mereka hanya dalam bentuk manekin. Butuh waktu bagi mereka untuk bisa menjalin rasa kekeluargaan. Sementara kelompok perempuan yang terdiri dari Nenek, Ibu dan anak perempuannya yang tomboy dan selalu mengaku bernama Atan, punya cara mereka sendiri untuk menjalani hari-hari tanpa kehadiran sosok laki-laki. Bukannya tanpa masalah. Film ini menunjukkan bahwa keluarga dalam bentuk apapun, akan selalu saling membutuhkan. Selanjutnya saya harus berlari-lari untuk mengejar film selanjutnya, Avant Que J'oublie (Before I Forget). Film ini jauh berbeda dari Flower tentu saja. Avant adalah tentang kehidupan para gigolo gay dan fantasi seksual mereka yang membuat saya bergidik. Saya tidak tahu apakah harus berempati, bersimpati atau jijik. Mungkin karena film itu begitu vulgarnya bermain-main dengan fantasi seksual yang nyeleneh. Jujur saja, saya bergidik. Setelah menonton Avant Que J'oublie, waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam. Saya memilih pulang karena besok masih panjang. Masih banyak film yang harus saya tonton. Rotterdam menawarkan begitu banyak pilihan. HARI KEDUA (Jumat, 25 Januari 2008): Asian Story Wajah-wajah Asia mulai muncul. Pagi hari sambil menikmati kopi di lantai 3 De Doelen, saya sempat ngobrol dengan Tan Chui Mui yang baru saja mengakhiri masa 'homestay' nya di Paris. Dari kemenangannya di Rotterdam Film Festival tahun 2007 lalu, Mui mendapat semacam sponsorship untuk bisa belajar berbagai hal tentang film di Perancis. Sponsorship yang sama juga didapatkan oleh sutradara muda asal Philipina, Raya Martin. Mui bercerita selama di Perancis, ia tidak bisa menyelesaikan skenarionya karena lebih banyak menikmati pengalaman baru. Akhirnya tahun ini ia hanya bisa membawa sebuah film pendek, Nobody's Girlfriend yang diputar di seksi Short: As Long As It Takes. Tapi ia akan segera kembali ke Malaysia dan mengembangkan film itu menjadi film panjang. Seperti tahun lalu, Mui masih juga sibuk menyebarkan kartu pos dan pamflet film. Kali ini bukan filmnya, tapi film karya Liew Seng Tat, Flower In The Pocket. Di film itu, Mui bertindak sebagai produser eksekutif. Sebagian uang tunai hasil kemenangan Mui tahun lalu di Rotterdam di investasikan di film feature pertama Liew Seng Tat ini. Seng Tat yang muncul kemudian ditengah percakapan, terlihat sibuk. Kali ini ia tidak lagi bisa terlalu santai dengan jadwal tanya jawab, sesi foto dan wawancara yang ketat. “Tahun lalu saya masih bisa santai, sekarang saya harus punya agenda,” katanya sambil berlalu lagi karena koordinator wawancara sudah memberi kode. Pagi ini, saya mulai dengan menonton Go With Peace, Jamil karya Omar Shargawi. Saya agak terlambat sehingga tidak sempat melihat generik di awal film. Sebuah film yang mengangkat tema perseteruan yang mengakar antara islam Syiah dan Sunni. Yang membuat saya agak mengerutkan kening karena film ini disyut di Denmark –nama kota persisnya tidak disebutkan-- , negeri yang terkenal rasis dan tidak suka dengan keberadaan masyarakat muslim. Go With Peace, Jamil jelas menghindari masalah rasis dalam masyarakat Denmark. Ia memilih fokus pada lingkaran setan seteru Syiah-Sunni. Film panjang pertama Omar Shargawi ini punya potensi untuk jadi film bagus. Hanya sayangnya, ada dramatisasi yang sedikit berlebihan yang membuat Go With Peace tidak punya nilai lebih dari film-film tentang konflik seperti misalnya Paradise Now. Hal lain yang paling menonjol dari film ini adalah gaya shot-nya yang akan mengingatkan kita pada film-film Lars Von Trier khususnya trilogi Europa. Diakhir film, saya baru sadar ternyata film ini diproduksi oleh Zentropa, perusahaan film milik Von Trier. Selain film-film Lars Von Trier, baru kali ini saya menyaksikan film produksi Zentropa non Von Trier. Tapi apakah gaya shot ini ada hubungannya dengan Von Trier? Omar Shargawi yang baru saja datang hari ini menyatakan kesediaannya untuk ngobrol banyak dengan RF. (Akan ada wawancara dengannya di RumahFilm). Usai menonton Go With Peace, Jamil, saya langsung 'terbang' ke lantai tiga untuk screening film karya Kobayashi Masahiro (filmnya Bashing, masuk nominasi Cannes 2005). Film terbaru Masahiro, The Rebirth membuat saya terpaku beberapa saat hingga filmnya selesai. The Rebirth sebetulnya tidak masuk seksi kompetisi tapi masuk seksi Filmmaker in Focus. Tapi saya tidak sanggup mendisiplinkan diri untuk hanya fokus pada film di seksi kompetisi utama. Saya tidak tahan godaan untuk menonton film karya Masahiro. Dari 1 hingga 10, saya memberi film ini 10. Sebuah film yang menguji kesabaran anda hingga ke titiknya yang terakhir. Begitu banyak adegan berulang yang serupa tapi tak sama, seperti mengajak anda untuk terus menatap layar sehingga paham apa yang berubah dan apa yang sedang terjadi. Pada akhirnya, kita kemudian paham, film tentang cinta platonis ini romantis dengan caranya sendiri. I love this film, very much! Setelah The Rebirth, saya istirahat sejenak karena harus mengurusi hal-hal kecil yang ternyata cukup menghabiskan waktu. Setelah itu saya langsung menuju Venster, salah satu sinema yang tersembunyi disebuah jalan kecil. Malam ini, jam 8 – 10 malam akan ada pemutaran program khusus Shorts From Malaysia and Indonesia: Neighbours. Kenapa dengan Edwin? Di Venster, saya kemudian bergabung dengan rekan saya, Ekky Imanjaya, yang baru saja tiba dari Amsterdam. Kami kemudian menemui seorang sutradara Indonesia yang sedang kebingungan diantara keramaian. Siapa lagi kalau bukan Edwin. Namanya yang hanya satu kata selalu jadi bahan awal pembicaraan orang-orang bule di Amsterdam. Dan saya lihat, Edwin pun kelelahan menjawab pertanyaan: kenapa hanya Edwin? Edwin yang datang dengan banyak stok rokok Jisamsoe lantas jadi favorit cowok-cowok perokok termasuk Ekky. Kami kemudian ngobrol ngalor ngidul sampai pemutaran film dimulai di Venster I yang dipenuhi berbagai macam kursi, dari sofa empuk ala tempat tidur hingga kursi beludru ala kursi raja. Sebagai satu-satunya sutradara film pendek yang hadir malam itu, Edwin pun didaulat untuk memberi kata sambutan. Dengan gaya salting dan senyum malu-malu (atau cengar-cengir tidak jelas), Edwin bilang: Silahkan menonton filmnya tapi sebelumnya saya ingin minta izin untuk memotret kalian semua untuk saya kirim ke teman-teman saya di Indonesia. Para penonton pun langsung ngakak dan pasang senyum manis. Cheeerrrrsss! Sesuai pengaturan tugas antara kami, rekan saya Ekky Imanjaya akan menuliskan kesan-kesannya terhadap film-film pendek Indonesia-malaysia ini. Bagi saya film-film ini adalah pengobat rindu pada kampung halaman. Ada film-film karya Forum Lenteng (Home karya Otty Widasari, Bilal karya Bagasworo Aryaningtyas, When I Back Home No Mother in Front Of The Door karya Gelar Agryano Soemantri). Lalu berturut-turut film Trip To The Wound karya Edwin, Thou Shalt Not Wait karya Riri Riza, dan Half Teaspoon karya Ifa Isfansyah (setidaknya saya sudah memenuhi janji kepada Ifa untuk menonton film Half Teaspoon). Semua film-filmnya sangat Indonesia, dari terminal bus hingga ke warung makanannya. Di Rotterdam, saya jadi rindu Indonesia.** * |
|
awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org. Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik © 2007 rumahfilm.org |