Sepuluh Film Terbaik Nya' Abbas Akup
Kontributor Rumah Film Donny Anggoro “merayakan hari kelahiran” sutradara Nyak Abbas Akup tanggal 22 April dengan sebuah tulisan tentang film-filmnya. Donny, seorang pecinta film B, berargumen bahwa Nyak Abbas pantas dijuluki sebagai “Bapak Film Komedi Nasional” karena rambahan karyanya yang luas. Sekalipun Nyak Abbas tak pernah mendapat Piala Citra –yang pernah jadi supremasi film nasional– nama Nyak Abbas tetap sangat penting dalam film Indonesia.
Sejarah Adalah Sekarang 4
Body of Works - Soekarno M. Noor
Soekarno M. Noor adalah seorang aktor watak yang hadir dengan sangat kuat dalam sejarah seluloid di negeri ini. Bulan Maret 2010, Rumah Film menyeleksi sejumlah film yang dibintanginya untuk diputar di program Body of Works Soekarno M. Noor yang menjadi bagian program Sejarah Adalah Sekarang 4 yang diselenggarakan oleh Kineforum, Dewan Kesenian Jakarta dalam rangka bulan film nasional.
Mengenang Yasmin Ahmad: Kenyataan yang Tak Bisa Ditampik
Redaktur Rumah Film, Hikmat Darmawan, menuangkan rekam jejak almarhumah Yasmin Ahmad ke dalam artikelnya kali ini. Meskipun boleh dibilang cukup singkat, Yasmin Ahmad dikenal sebagai sutradara yang tidak takut menyelami dan mengkritik realita di masyarakatnya. Tapi itu tidak membuat film-filmnya menjadi nyinyir. Sebaliknya, film-filmnya justru sarat dengan semangat mencintai sesama yang kental, dan penuh optimisme.
Film dan Nasionalisme
Keluargaku, Bangsaku
Tahun ini, film Indonesia mencatat keragaman yang menarik. Misalnya, hadirnya film bertema olahraga. Film jenis ini jarang sekali muncul dalam sejarah film kita, tapi tahun ini muncul tiga sekaligus: Romeo & Juliet (Sutradara: Andi Bachtiar Yusuf), Garuda Di Dadaku (Sutr.: Ifa Isfansyah) dan King (Sutr.: Ari Sihasale). Redaktur Rumahfilm.org, Eric Sasono, menjadikan film-film olahraga itu, sebagai pintu masuk bagi ulasan tentang keadaan terkini relasi film Indonesia dan nasionalisme. Eric, dalam tulisan ini, terutama mengulas representasi keluarga dalam Garuda Di Dadaku dan King, dan betapa wacana keluarga yang konservatif mendasari wacana kebangsaan kedua film itu. Tulisan ini adalah bagian pertama dari dua tulisan tentang film Indonesia dan Nasionalisme.