Gie:
Representasi Berwajah Ganda
(Lanjutan)
oleh Veronika Kusuma

SHG dan Han: Inklusi dan Eksklusi
Riri Riza menguatkan tesis ini dengan menyatakan bahwa kisah Soe Hok Gie adalah teropong terbaik untuk melihat Indonesia. Kisah hidup Gie adalah ramuan yang lebih dari cukup untuk membuat film yang menarik. Maka dibuatlah film berbudget 11 miliar, sebuah nilai paling besar bagi produksi film layar lebar di Indonesia, dengan durasi 147 menit.

Penggambaran SHG yang demikian, bukan hanya menyajikan sebuah ‘kontestasi’ atas stereotip etnis yang selama ini dilekatkan pada kaum Tionghoa, tetapi juga meletakkan kuasa pengetahuan yang bahkan menjauhkan atau sebaliknya, menguatkan stereotip etnis ini.

Selain karakter SHG, karakter beretnis Tionghoa yang menonjol dalam film ini adalah Han. Teman kecil SHG ini digambarkan berasal dari keluarga yang miskin. Bahkan bisa diduga, ia adalah anak angkat dari Tante Han. Dalam satu adegan awal, Tante Han bahkan berkata,

“Emang anak gak tau diuntung lu! Udah bagus ada yang ngasih makan….”

Karakter Han ini menyajikan sebuah representasi yang lain atas etnis Tionghoa. Dalam sebuah pertemuan kembali di sekitar Kramat, kita bisa melihat bahwa Han mengambil jalan yang jauh berbeda dengan Gie. Bukannya kuliah seperti Gie, Han justru harus bekerja. Informasi ini terlihat dari setting dialog antara Gie dan Han di warung di dekat sebuah pabrik, tempat Han bekerja.

Dari dialog yang dilakukan dua orang ini, ternyata Han sudah menjadi salah satu kader PKI. Seperti juga yang telah tampil di beberapa adegan di bagian depan, pendukung-pendukung PKI selalu ditampilkan sebagai orang-orang ‘miskin’, baik miskin material maupun pengetahuan. Keikutsertaan orang-orang ini dalam politik lebih didorong oleh impian dan harapan untuk memperbaiki hidup, bukan semangat idealis untuk mencapai ‘sesuatu’. Istilah-istilah borjuis bagi ‘sesuatu’ seperti demokrasi, keadilan sosial, kebenaran, dan lain-lain, bukanlah sesuatu yang penting bagi rakyat golongan bawah. Kutipan dialog SHG dan Han berikut memberikan argumentasi untuk pernyataan tadi.

GIE
Han, lu denger nggak sih apa yang gue omongin? Coba lu pikirin, kenapa Soekarno dan PKI saling mendukung? Ini permainan politik, Han, …permainan kekuasaan….

HAN
Gie, dengar gue sebentar…Lu mestinya inget dan ngerti kenapa gue pengen hidup gue berbuah, kenapa gue pengen hidup layak. Dan seperti lu, gue juga merasa punya tugas untuk memastikan rakyat kita yang miskin bisa hidup layak. Ini akan tercapai Gie…

Tentu saja, Han tidak ditampilkan membaca buku-buku, atau berdiri di depan mimbar dan bicara tentang perjuangan kaum Komunis, tidak pula Han ditampilkan naik gunung atau punya waktu dan uang banyak untuk bersenang-senang seperti SHG. Maka yang disebut Han sebagai “tugas untuk memastikan rakyat kita yang miskin bisa hidup layak” memiliki dimensi yang berbeda bagi SHG.

Bagi Gie memastikan rakyat bisa hidup layak bisa dilakukan dengan protes terhadap DPR dan Presiden, membaca banyak buku, naik gunung, dan berdiskusi. Bagi Han, memastikan rakyat bisa hidup layak berarti menjadi anggota Partai Komunis Indonesia, menjadi bagian massa proletariat yang akan menghancurkan kaum kapitalis dan agen-agennya, termasuk di dalamnya kelas menengah, seperti SHG. Persoalan di sini, bukanlah persoalan bagaimana memastikan rakyat bisa hidup layak. Persoalannya adalah dua orang ini memiliki posisi politik yang berbeda karena mereka berasal dari kelas yang berbeda: kelas borjuis / kelas mengah dan golongan rakyat bawah.

Rakyat bawah ditampilkan menjatuhkan pilihan-pilihannya tidak berdasarkan rasionalitas dan pengetahuan yang cukup (dengan membaca banyak buku), tapi mereka menjatuhkan pilihan pada satu ideologi tertentu karena harapan dan mimpi-mimpi untuk mendapatkan hidup yang lebih baik.

Tak heran, proses ekslusi, baik Han sebagai figur komunis yang memang sudah liyan bagi Indonesia, sekaligus sebagai kelas bawah nampak dalam adegan penangkapan Han. Penguasa Orde Baru via militer, bekerja untuk melakukan eksklusi, bukan saja Han sebagai komunis tapi juga Han sebagai kelas bawah. Dan Gie, sebagai kelas menengah, tidak bisa tidak selain diam dalam kebisuan.

Adegan beberapa tahun kemudian, ketika Gie bertemu dengan Tante Tjin Han menyajikan sebuah gambaran dilematis tentang peran ‘kelas menengah intelektual’ seperti Gie terhadap peristiwa pembantaian besar-besaran terhadap kaum Komunis, termasuk Han.

GIE
Jadi ia tidak pernah kembali lagi sejak hari itu?

TANTE HAN
Dia diambil lewat tengah malam Gie… Dia suruh aku sembunyi di dalam lemari…..dst.
(contd.)
Tapi aku tidak tahu lagi Han ada di mana….

GIE melepaskan nafasnya.

Dalam sebuah wawancara, SHG melihat bahwa persoalan pembantaian orang-orang PKI ini dengan sendirinya akan menguatkan dominasi militer. Begini ucapnya:

GIE
…..Dominasi militer akan semakin kuat karena militer adalah pahlawan baru. Kini mereka berkuasa dan kekuasaan kembali menjadi setir… Saya juga melihat bahwa ormas Islam akan kembali muncul dan memegang kendali, sementara parlemen hari ini diisi oleh orang-orang yang membawa kepentingan politik penguasa. …

Dalam sebuah adegan, Gie menulis demikian,

Pembunuhan ini telah menekan korban sekurang-kurangnya delapan puluh ribu jiwa, tua, muda, laki, perempuan. Dan ini menurut pada perkiraan yang paling konservatif.

Ungkapan-ungkapan SHG ini terdengar sangat rasional, ilmiah, sistematis, tertata, tetapi kering emosi. Pembantaian ratusan ribu orang menjadi statistik yang menjadi landasan bagi analisis kekuatan politik di level nasional. Lalu kemana suara para korban, keluarga korban, dan orang-orang yang berada di golongan bawah negeri ini? Kemana tangisan, jeritan, dan penderitaan kaum-kaum tak bersalah yang dibantai karena pilihan ideologinya ini?

Hal ini terlihat sejalan dengan salah satu tajuk di harian Mahasiswa Indonesia, corong perjuangan mahasiswa (yang adalah kelas menengah dan menginginkan perubahan ke arah yang lebih baik) pada masa awal pembentukan Orde Baru, terlihat di adegan ketika Gie bertemu Soenarto. Begini tulisannya,

CINA, PKI = MATI.

Tajuk ini mewakili bukan saja eksklusi dan penolakan atas etnis yang dianggap lain, tapi juga stereotip yang dilekatkan pada etnis ini, yakni sebagai pendukung dan pemasok modal bagi operasional golongan komunis (PKI).

Pada tahun-tahun itu (1965-1966) sentimen anti-Tionghoa memang meningkat pesat, bukan saja karena perang propaganda yang dilancarkan oleh Baperki vs. LPKB, tapi timbul kecurigaan bahwa orang-orang Tionghoa di Indonesia dan negara Tiongkok membantu PKI untuk melakukan kudeta.[15]

Ambiguitas
Maka, film Gie ini menggambarkan dua operasi representasi yang bertumpang-tindih, yakni representasi SHG sebagai kaum Tionghoa borjuis berhaluan progresif. Sementara di sisi lain, Han, kaum Tionghoa miskin, tanpa akses pengetahuan ditempatkan sebagai korban yang tak pernah terepresentasikan dalam media, Komunis, dan oleh karena itu sah untuk dihilangkan. Seperti juga Han, kaum kelas bawah ini segera keluar dari bingkai (frame). Ia menghilang dan tidak kelihatan (invisible) serta out-of-shot.[16]

Maka film ini menampilkan dua representasi yang saling berlawanan, yakni Tionghoa yang masuk wilayah pusat dan mereka yang berada di periferi. Dan menurut Stuart Hall, ambiguitas representasi ini akan selalu hadir dalam usaha untuk menampilkan ‘representasi positif’ suatu etnis/identitas.

Orang yang dianggap berbeda dari mayoritas –‘mereka’, daripada ‘kita’— sering diekspos dalam representasi biner. Mereka kadang direpresentasikan saling berlawanan, terpolarisasi, berada dalam oposisi biner yang ekstrim –baik/buruk, beradab / primitif, jelek / sangat menarik, mengganggu karena ‘berbeda’ / menarik karena aneh dan eksotis. Dan representasi seperti ini kadang memang diperlukan dalam waktu yang bersamaan![17]

Representasi yang bersifat ambigu ini akan bisa mendapatkan tempat yang lebih tidak rasis ketika ia ditempatkan dalam wacana tentang kuasa. SHG sebagai sosok Tionghoa idealis, seperti juga kelas menengah lainnya di Indonesia, tidak bisa berbuat apa-apa ketika ‘kelas bawah’ mengalami penindasan. Kelas menengah intelektual, yakni mahasiswa yang merupakan kekuatan baru pasca-perang kemerdekaan, baik di tahun 1966 maupun di tahun 1998, sama-sama tidak berdaya.

Mereka memang menginisiasi perubahan, tapi kemudian, sejarah berulang. Kelas ini terserap menjadi kolaborator kaum penindas. Etnis Tionghoa, sebagai korban ‘abadi’ dalam gejolak-gejolak sosial di Indonesia, tidak memiliki pelindung dari persoalan ini, tidak pula kelas menengah intelektual yang selama ini mempromosikan persamaan, anti-diskriminasi, demokrasi dan keadilan sosial.

Dalam konteks ini, nyata terlihat bahwa Tionghoa lagi-lagi menempati posisi sebagai periferi, di mana tempatnya di dalam sejarah dan media coba dikeluarkan (ekslusi) dari apa yang disebut ‘normal’ dan mayoritas.****

Catatan akhir:
[1]Tulisan ini berasal dari makalah penulis dalam kuliah “Teori Film” di Institut Kesenian Jakarta, 2007.
[2]Daniel Dhakidae, „Soe Hok Gie:Sang Demonstran“, dalam Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran, Jakarta:LP3ES, 2005.
[3]Sinopsis film (VCD), Gie, Cinekom, 2005 dan Riri Riza, Gie, Naskah Skenario, Penerbit Nalar, 2005.
[4]Stuart Hall, Representation:Cultural Representations and Signifying Practice, SAGE Pub.and Open University, 1997, terutama bagian “Representation, Meaning and Language”.
[5]Stuart Hall, ibid.
[6]Chris Barker, ibid., hal. 263-264.
[7]JB Kristanto, Katalog Film Indonesia 1926-2005, Penerbit Nalar, 2005.
[8]JB Kristanto, ibid.
[9]Taufik Abdullah (ed.), Film Indonesia Bagian I (1900-1950), Dewan Film Nasional, 1993.
[10]Riri Riza, “Gie adalah Cermin”, dan Mira Lesmana, “Politik itu Keren!”, Majalah F, ed.1, Juli-Agustus 2005.
[11]Sebuah studi khusus tentang afiliasi politik etnis Tionghoa dapat dilihat dalam Mely G. Tan (ed.), Golongan Etnis Tionghoa di Indonesia:Suatu Masalah Pembinaan Kesatuan Bangsa, YOI dan LIPI, 1979.
[12]“Mimpi Besar Riri Riza Atawa Politik Hati Nurani”, wawancara Majalah F dengan Riri Riza, ed. 01, Juli-Agustus 2005.
[13]Michel Foucoult dalam The Archaeology of Knowledge (Pantheon, 1972) dan Power/Knowledge (Pantheon, 1980) meletakkan landasan pada hubungan antara pengetahuan dan kekuasaan. Tesis ini dirujuk dari Chris Barker, ibid.
[14]Mira Lesmana, “Catatan Seorang Pengagum”, dalam Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran, Jakarta:LP3ES, 2005.
[15]Charles A. Coppel, ibid.
[16]Dikutip dari kuliah Jennifer Verrais, Postcolonial History, Unconscious Specters of Colonialism and the Archive Fever, IKJ, 18 Juni 2007.
[17]Hall, S.(ed.), The Spectacle of the Other dalam Stuart Hall (ed.), Representations, SAGE, 1997. “People who are in any way significantly different from the majority –‘them’ rather than ‘us’—are frequently exposed to this binary form of representation. They seem to be represented through sharply opposed, polarized, binary extremes –good/bad, civilized / primitive, ugly / excessively attractive, repelling-because-different / compelling-because-strange-and-exotic. And they are often required to be both things at the same time!”

Artikel lainnya | Awal tulisan

awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org