Sharifah Amani: “Saya Akan Meneruskan Yasmin...”
Redaktur Rumah Film, Ekky Imanjaya, mewawancarai Sharifah Amani, bintang muda Malaysia yang kerap bermain dalam film-film garapan Yasmin Ahmad. Chemistry-nya yang lekat dengan sosok Yasmin ditambah pesonanya sendiri yang tidak henti memancar, membuat kami percaya semangat humanis yang dijalankan Yasmin Ahmad tidak akan terputus dalam karir dan karya Sharifah kelak.

3 Pertanyaan untuk Sang Pemimpi
Jakarta International Film Festival (JIFFest) kesebelas mencatat sejarah baru dengan menjadikan film Indonesia sebagai film pembuka. Film itu, Sang Pemimpi, adalah sekuel dari film Indonesia terlaris (mungkin) sepanjang masa, Laskar Pelangi. Fakta ini merangsang redaktur Rumah Film untuk bertanya kepada para produser Sang Pemimpi. Yang satunya adalah Mira Lesmana dari Miles Film yang sudah malang melintang menciptakan film-film hit di box-office. Satunya lagi adalah Putut Wijanarko, pemain baru dari Mizan Production yang mengawali bisnis dari penerbitan buku.

Liew Seng Tat: “Kami Buat Film Sesuai Apa yang Kami Mau”
Baru menelurkan satu film panjang, tapi sudah sedemikian sukses. Itulah yang dialami Flower in the Pocket, karya sutradara Malaysia Liew Seng Tat. Film ini memang menjadi langganan bagi banyak festival film kelas dunia, termasuk di program khusus anak-anak. Pada Januari 2008 lalu, saat International Film Festival Rotterdam, redaktur Rumahfilm.org Asmayani Kusrini mewawancara Seng Tat dengan mendalam. Ia menyatakan, Flower memang tentang jarak antar ras di Malaysia. "Ini menyakitkan bagi saya sebagai orang Malaysia,“ ujarnya. Bagaimana dengan para tokoh utama yang adalah kanak-kanak? “Dengan anak-anak, semua masalah terlihat sederhana,” jelasnya. Simak selengkapnya, eksklusif hanya di Rumah Film. Termasuk bocorannya soal mengapa proposalnya bisa memenangkan Prince Claus Award.

» Wawancara lainnya


 audience award voting card

Festival, Penonton, Revolusi dan Bakat

Redaktur Rumah Film, Eric Sasono, diundang ke Jeonju, Korea Selatan, untuk menjadi juri di Jeonju International Film Festival (JIFF) yang diselenggarakan dari tanggal 29 April hingga 7 Mei 2010. Ia menurunkan beberapa tulisan dari festival ini, termasuk pengalamannya menonton film-film Korea Selatan yang dikompetisikan dalam festival tersebut.

Pengalaman berfestival di Jeonju ini cukup berkesan bagi Eric terutama karena programming festival film ini tergolong berani. JIFF berfokus pada film independen dan eksperimental. Mereka memberi tempat bagi film-film dengan kekisahan rumit dan menantang batas-batas sinema. Anehnya – atau karena itu – festival ini demikian ramai oleh penonton, dan kebanyakan dari mereka adalah kalangan muda. Silakan cerna fakta ini: jumlah penduduk kota Jeonju sekitar 630 ribu orang, dan selama JIFF berlangsung, jumlah tiket terjual lebih dari 50 ribu tiket!

» Catatan I: Festival buat Penonton?
» Catatan II: Rumah bagi Sinema Obskur
» Catatan III: Fokus dan Revolusi
» Catatan IV: Bakat Baru Film Korea

Alangkah Lucunya (Negeri Ini)

Film Alangkah Lucunya (Negeri Ini) boleh saja membuat penonton terpingkal dan haru sekaligus. Film ini juga sah jika dipandang meneriakkan pesan lantang tentang realitas. Tapi, benarkah itu membuat Alangkah Lucunya kesepian tanpa teman dalam khazanah film Indonesia mutakhir? Redaktur RumahFilm, Hikmat Darmawan menolak merayakan Alangkah sebagai sekadar sebuah episode lepas dari film Indonesia. Menurutnya, dibaca bersama Laskar Pelangi dan Jermal, film ini ternyata bisa menjelaskan sengkarut pikir bangsa ini dalam mencari jalan masa depan. Sementara Redaktur lain RumahFilm, Ifan Adriansyah Ismail, menggugatkan sesuatu yang disebutnya sebagai “secuplik suara yang terbenam” dalam Alangkah Lucunya lewat sebuah surat yang akrab dan manis.

» Alangkah Lucunya (Negeri Ini): Tanah Airku, Film Ini Tak Lari Meninggalkanmu - Hikmat Darmawan
» Alangkah Lucunya (Negeri Ini) dan Secuplik Suara Terpendam - Ifan Adriansyah Ismail

Saia: Musik Kamar yang Berani
Film kedua Djenar Maesa Ayu akan dengan mudah dipahami sebagai film tentang seks. Memang, lebih dari 90% adegan dalam film itu adalah adegan seks dalam beberapa babak. Apalagi, Djenar memainkan sendiri secara total salah satu dari dua tokoh utama permainan seks di film ini. Maka, segeralah beberapa percakapan mencuat di antara para penonton film yang baru diputar untuk kalangan terbatas ini, seperti persoalan ketubuhan dan metafor voyeurism. Redaktur Rumahfilm.org, Hikmat Darmawan, memandang film ini bukanlah “film tubuh”, melainkan “film kamera”. Menurutnya, Djenar tampak berhasil meluluhkan medium film, dan membuka banyak kemungkinan dengan kamera. Kemungkinan-kemungkinan yang tak baru, tapi terasa diabaikan oleh kebanyakan pembuat film Indonesia generasi kini..

Mata Rabun tapi Hati Celik: An Appreciation of Yasmin Ahmad’s Rabun
In memory of Yasmin Ahmad, Rumah Film republished this article by Hassan Abd. Muthalib, Malaysian filmmaker and animator, as he appreciated compassionately Yasmin’s first film, Rabun. Here, Mr. Muthalib recognized Yasmin’s ability to make a bold statement elegantly, thinly veiled below her seemingly innocent stories.

Politik dan Queen Bee:
Sekali Menyengat, Sesudah Itu…?

Queen Bee - Ada celah yang tak terjembatani di antara hiruk pikuk perpolitikan Indonesia dengan hiruk pikuk pesta kaum mudanya. Tampaknya karena menyadari bahwa celah itu akan berakibat buruk dalam jangka panjang, film Queen Bee mencoba menjadi jembatan itu. Sayang Queen Bee masih terbata-bata dalam mencari pijakan. Tampak masih ada kebingungan, bagaimana seharusnya memikat anak muda untuk kembali peduli politik, sementara di sisi lain filmnya sendiri masih tergoda merayakan gaya hidup anak muda yang menjadi sasaran penontonnya. Anehnya, lengkap dengan terseret-seretnya alur cerita, yang membuat film jadi lambat dan tentu saja sangat tidak anak muda. Redaktur kami, Ifan Adriansyah Ismail, tidak merasakan sengatan sang Ratu Lebah. Jikapun memang sang lebah menyengat, semoga saja tidak seperti lebah sungguhan yang sekali menyengat, sesudah itu mati.

Generasi Biru:
Generasi Dalam Bingkai Keliru

Generasi Biru - Slank adalah salah satu tanda generasi yang penting. Slank dan ”jemaah”-nya lahir dari sebuah keberhasilan deidologisasi dan depolitisasi oleh rezim Orde Baru. Mereka jadi suara moral, tapi bukan dari jenis suara yang sama dengan, misalnya, Munir, yang penuh perlawanan itu. Mereka juga berbeda dari Kantata Takwa. Sayang sekali, menurut redaktur kami, Eric Sasono, film Generasi Biru gagal menangkap apa yang membuat Slank penting. Sutradara Garin Nugroho, John De Rantau, dan Dossy Omar (segmen dokumenter) terjebak dalam sebuah ”kekacauan demi kekacauan itu sendiri.” Keterjebakan itu, bagi Eric, lahir dari sebuah salah baca terhadap Slank. Dan kesalahan membaca itu, mengundang hadirnya catatan lain. Ini genting, jika kita setuju Eric, karena membaca Slank adalah membaca sebuah generasi.

» Resensi lainnya: Layar Lebar | Dokumenter | Film Pendek | Lain-lain

Body of Works - Soekarno M. Noor
Soekarno M. Noor adalah seorang aktor watak yang hadir dengan sangat kuat dalam sejarah seluloid di negeri ini. Bulan Maret 2010 silam, RumahFilm menyeleksi sejumlah film yang dibintanginya untuk diputar di program Body of Works Soekarno M. Noor yang menjadi bagian program “Sejarah Adalah Sekarang 4” yang diselenggarakan oleh Kineforum, Dewan Kesenian Jakarta dalam rangka bulan film nasional.

Sepuluh Film Terbaik Nya' Abbas Akup
Kontributor Rumah Film Donny Anggoro “merayakan hari kelahiran” sutradara Nyak Abbas Akup tanggal 22 April dengan sebuah tulisan tentang film-filmnya. Donny, seorang pecinta film B, berargumen bahwa Nyak Abbas pantas dijuluki sebagai “Bapak Film Komedi Nasional” karena rambahan karyanya yang luas. Sekalipun Nyak Abbas tak pernah mendapat Piala Citra –yang pernah jadi supremasi film nasional– nama Nyak Abbas tetap sangat penting dalam film Indonesia.

Mengenang Yasmin Ahmad: Kenyataan yang Tak Bisa Ditampik
Redaktur Rumah Film, Hikmat Darmawan, menuangkan rekam jejak almarhumah Yasmin Ahmad ke dalam artikelnya kali ini. Meskipun boleh dibilang cukup singkat, Yasmin Ahmad dikenal sebagai sutradara yang tidak takut menyelami dan mengkritik realita di masyarakatnya. Tapi itu tidak membuat film-filmnya menjadi nyinyir. Sebaliknya, film-filmnya justru sarat dengan semangat mencintai sesama yang kental, dan penuh optimisme.

RumahFilm.org

Dapatkan informasi terkini dari RumahFilm.org melalui Email.
Tuliskan Email Anda:

Gunakan feed reader untuk memperoleh informasi terkini dari RumahFilm.org. Silahkan subcribe.

AddThis Feed Button

Balibo, atau Indonesia Sebagai Monster yang Sempurna
Film Balibo menuai kontroversi dari sana-sini, terutama karena dilarangnya film itu secara resmi untuk diputar di Indonesia. Perdebatan ramai seputar kebebasan berekspresi dan penyensoran. Redaktur Rumah Film, Ifan Adriansyah Ismail memilih untuk menengok dari dalam filmnya sendiri.

Balibo dan Kita
Redaktur Rumah Film Hikmat Darmawan menuangkan kegundahannya perihal kecenderungan untuk membungkam semua pertanyaan dan pernyataan yang tidak sesuai dengan garis resmi, terkait dengan huru-hara seputar film Balibo .

» Esai lainnya


awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
XML | HTML | Subscribe to RumahFilm.org by Email
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org
Creative Commons License