Pertanyaan 3 Milyar
Menjelang berakhirnya 2008, redaksi Rumahfilm sepakat untuk membuat tradisi baru, yaitu membuat catatan tahunan seputar film-film yang beredar. Untuk tahun 2008, temanya adalah film-film penting (films that matter). Kami pun secara resmi mengajukan dua pertanyaan yang kami juluki “Pertanyaan 3 Milyar”—angka itu adalah rata-rata bujet produksi film fitur di Indonesia—seputar tema tersebut kepada perwakilan sutradara (dan produser) yang filmnya kami masukkan dalam daftar film penting.
Pertanyaannya hanya dua: “apakah film Anda penting?” dan “selain film Anda, film mana lagi yang Anda anggap penting?”.

Béla Tarr:
Hanya Sutradara Film Iklan Saja yang Memikirkan Penontonnya

Asmayani Kusrini bertemu dengan Béla Tarr. Padahal Rini merasa baru dua tiga tahun saja ia melek film, dan sempat beranggapan bahwa film hitam putih pasti dibuat oleh sutradara yang sudah mati. Dan ia bertemu Béla Tarr yang memilih film format hitam putih karena pusing oleh banyak warna. Dengan segenap semangat seperti seorang peneliti yang penasaran, Rini bertanya pada Béla Tarr tentang banyak hal. Tentang konvensi sinematis, tentang beratnya hidup dan tentang Tuhan.

» Wawancara lainnya


 Sampai jumpa Cannes!

Catatan dari Festival Film Cannes ke-62

Menyaksikan penggila dan pembuat film internasional tumplek blek di Cannes, mau tak mau sebuah pertanyaan terbersit: benarkah dunia sedang dilanda krisis ekonomi global? Tampaknya rintihan para ekonom sedunia tidak membuat para pelaku film rela ikut merintih.

Tahun ini, di Festival Film Cannes ke-62, gairah itu masih nampak. Kemeriahan masih meraja. Tidak heran redaktur RumahFilm, Asmayani Kusrini, sempat terheran-heran melihat paket katalog dan buklet tahun ini dikemas dalam sebuah tas backpack, yang jelas lebih mahal daripada tas gantung biasa. Ikuti terus laporan dan petualangannya merekam gairah perfilman yang tidak mati-mati, langsung dari Cannes!

Dari Pesta Demokrasi di Indonesia hingga Pesta Film di Perancis
Day 1: Kembalinya si Anak Bandel dari China
Day 2: Lupa Makan Itu Biasa
Day 3: Puisi, Film Rumahan, dan Woodstock
Day 4: Scorsese Menyelamatkan Film, Won Bin dan Penjara Perancis
Day 5: Film..., film..., film lagi dan 'Complete Full' Pertama
Day 6: Antichrist, Kembalinya sang Agen Provokator, dan Eric Cantona
Day 7: Mengapa Filipina?
Day 8: Filipina, Malaysia, Thailand, dan Seterusnya...
Day 9 to 10: Enak Tidak Enaknya Jadi Ibu Hamil dan Mandi Darah di Cannes
Day 11 to 12: Cannes, Krisis, Kisah Tentang Raoul dan Pemenangnya adalah...

Politik dan Queen Bee:
Sekali Menyengat, Sesudah Itu…?


Queen Bee - Ada celah yang tak terjembatani di antara hiruk pikuk perpolitikan Indonesia dengan hiruk pikuk pesta kaum mudanya. Tampaknya karena menyadari bahwa celah itu akan berakibat buruk dalam jangka panjang, film Queen Bee mencoba menjadi jembatan itu. Sayang Queen Bee masih terbata-bata dalam mencari pijakan. Tampak masih ada kebingungan, bagaimana seharusnya memikat anak muda untuk kembali peduli politik, sementara di sisi lain filmnya sendiri masih tergoda merayakan gaya hidup anak muda yang menjadi sasaran penontonnya. Anehnya, lengkap dengan terseret-seretnya alur cerita, yang membuat film jadi lambat dan tentu saja sangat tidak anak muda. Redaktur kami, Ifan Adriansyah Ismail, tidak merasakan sengatan sang Ratu Lebah. Jikapun memang sang lebah menyengat, semoga saja tidak seperti lebah sungguhan yang sekali menyengat, sesudah itu mati.

Generasi Biru:
Generasi Dalam Bingkai Keliru

Generasi Biru - Slank adalah salah satu tanda generasi yang penting. Slank dan ”jemaah”-nya lahir dari sebuah keberhasilan deidologisasi dan depolitisasi oleh rezim Orde Baru. Mereka jadi suara moral, tapi bukan dari jenis suara yang sama dengan, misalnya, Munir, yang penuh perlawanan itu. Mereka juga berbeda dari Kantata Takwa. Sayang sekali, menurut redaktur kami, Eric Sasono, film Generasi Biru gagal menangkap apa yang membuat Slank penting. Sutradara Garin Nugroho, John De Rantau, dan Dossy Omar (segmen dokumenter) terjebak dalam sebuah ”kekacauan demi kekacauan itu sendiri.” Keterjebakan itu, bagi Eric, lahir dari sebuah salah baca terhadap Slank. Dan kesalahan membaca itu, mengundang hadirnya catatan lain. Ini genting, jika kita setuju Eric, karena membaca Slank adalah membaca sebuah generasi.

Posisi Ideologis dan Representasi:
Perempuan Berkalung Sorban, Membela atau Merusak Nama Islam?

Perempuan Berkalung Sorban - Film ini telah menuai protres! Sebagian menggugat, sebagian membela, berkenaan dengan representasi Islam yang provokatif dalam film itu. Redaktur RumahFilm, Ekky Imanjaya, mencoba membedah film ini dari dasar, lewat penelusuran status ideologis dan metode representasi yang dilakukan film ini (dan filmmaker-nya).

Pintu Terlarang:
Kamera sebagai Jarak Mutlak

Pintu Terlarang - Awal tahun ini, Joko Anwar mengeluarkan karya terbarunya, Pintu Terlarang. Film-film Joko, walau belum tentu menarik penonton sangat banyak, selalu jadi bahan pembicaraan menarik. Kali ini, ia menegaskan minatnya pada film-film slasher, seperti telah tampak dalam Kala dua tahun lalu. Pintu Terlarang juga merambah soal-soal yang ”nyata” dan ”tak nyata”. Tapi, yang sangat menarik bagi redaktur Rumahfilm.org, Hikmat Darmawan, adalah gagasan Joko tentang kamera dalam film ini.

Takut:
Faces of Fear

Takut - Ini adalah kumpulan film pendek bergenre horor, yang –seperti disuratkan judulnya– menelusuri rasa takut. Penjelajahan itu dilakukan oleh Tapi, Anda juga akan menemukan kejutan dalam cara Ifan Adriansyah Ismail, redaktur Rumahfilm.org, mengulas Takut.

Teeth:
Mitos Vagina Bergigi dalam Hibrida Genre Horor-Komedi

Teeth - Sebuah ulasan menarik dari kontributor kami, mahasiswa dan anggota Klub Kajian Film IKJ, yang menari-nari di antara berbagai teori tentang genre, gender, psikoanalisa, dalam membahas Teeth, sebuah komedi-horor indie dari Amerika karya Mitchell Lichtenstein, putra pelukis Pop Art, Roy. Tapi, jika kisahnya adalah tentang vagina bergigi dan penis terpangkas, ini komedi bagi siapa dan horor bagi siapa?

» Resensi lainnya: Layar Lebar | Dokumenter | Film Pendek | Lain-lain

Idealism versus Commercialism in Indonesian Cinema: A Neverending Battle?
Art films or commercial films? Idealism or commercialism? The dualism way of filmmaking in Indonesian film industry occurred for a very long time: Terang Boelan vs Pareh in the 1930s, Tarminah vs Lewat Djam Malam in the 1950s, Sexploitation films vs Garin Nugroho’s in the 1990s, and the list continues. Toward a historical overview, Ekky Imanjaya elaborate both sides of pole--from the birth, their struggles and battles again each other, the developments, the achievements, until recent progresses. But, as a matter of fact, there are some attempts to break the dichotomy and unite both groups in one package.

Mengapa Kita Tak Lagi Membuat Film Superhero?
Negeri adikuasa seperti Amerika terlihat mudah saja memproduksi film superhero. Menekuk-nekuk genre itu pun seolah cukup sekadar bermain dengan niat. Bagaimana negeri ini? Apakah karena segala yang super belum jadi takdir bangsa ini, film superhero pun jadi tak terbayangkan? Kontributor RumahFilm Ade Irwansyah mencoba mencari jawabnya...

Mengapa Film Horor (2)
Film horor bukan sekadar film yang ada hantunya. Hikmat Darmawan dalam bagian kedua tulisannya ini menjelaskan mengenai tipologi film horor yang dikenal. Selain itu, ada juga film yang menampilkan hantu tapi tidak dibuat dengan maksud untuk menakut-nakuti penonton. Berdasarkan pengertian ini, Hikmat sampai pada diskusi mengenai: film apa yang merupakan film Indonesia pertama yang bisa dikategorikan sebagai film horor.

» Artikel lainnya

RumahFilm.org

Dapatkan informasi terkini dari RumahFilm.org melalui Email.
Tuliskan Email Anda:

Gunakan feed reader untuk memperoleh informasi terkini dari RumahFilm.org. Silahkan subcribe.

AddThis Feed Button

Belitong according to Laskar Pelangi
Commentary on Laskar Pelangi continues. This time our editor, Ekky Imanjaya, who just completed his study in Amsterdam , shares his view on location aspect of Laskar Pelangi. Based on depiction of location that rarely seen in Indonesian film, Ekky elaborates more on two concepts, mental landscape and neo - realism elements of the film.

Perjuangan: Satu Monolog
Mengapa melirik fiksi, dan meninggalkan segala yang nyata? “Di zaman ini sudah sukar untuk membezakan yang mana fiksyen, yang mana reality,” tulis Hassan Muthalib, kritikus film dan esais negeri tetangga, Malaysia. Di zaman ini pula, warisan kedalaman fiksi Indonesia sering lebih dimaknai di negeri asing. Simaklah bagaimana Muthalib meminjam narasi November 1828 dalam renungan untuk memperingati kemerdekaan negerinya.

» Esai lainnya


awal | resensi | wawancara | artikel | esai | kabar terkini | filmsiana | agenda | hubungi kami | peta situs
XML | HTML | Subscribe to RumahFilm.org by Email
Untuk saran dan kritik kirimkan ke kritiksaran@rumahfilm.org. Untuk sumbangan artikel, berita dan esai kirimkan ke redaksi@rumahfilm.org.
Gunakan minimum display setting 1024 x 768 dan Mozilla Firefox sebagai browser agar memperoleh tampilan website terbaik
© 2007 rumahfilm.org
Creative Commons License